Tampilkan postingan dengan label ISLAM. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ISLAM. Tampilkan semua postingan

Rabu, 18 Oktober 2017

MENGINGAT KEMATIAN

Syaikh Abdullah Al Fauzān hafizhahullah:

وذكر الموت يحث العبد على الطاعة واجتناب المعصية خشية أن يفجأه الأجل

"Mengingat kematian akan memotivasi seorang hamba untuk melakukan ketaatan dan menjauhi kemaksiatan, karena khawatir ajal datang kepadanya secara tiba-tiba."
________
Minhatul Allām, (4/232)

Keutamaan Dzikir Kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala / ONE DAY ONE HADIST

Rabu, 18 Oktober 2017

28 Muharram 1439


عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ بُسْرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ أَعْرَابِيًّا قَالَ لِرَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، يَا رَسُوْلَ اللهِ إِنَّ شَرَائِعَ الْإسْلَامِ قَدْ كَثُرَتْ عَلَيَّ ، فَأَنْبِئْنِيْ مِنْهَا بِشَيْءٍ أَتَشَبَّثُ بِهِ ؟ قَالَ : لاَ يَزَالُ لِسَانُكَ رَطْبًا مِنْ ذِكْرِ اللهِ

Dari ‘Abdullâh bin Busr Radhiyallahu anhu berkata, “Seorang Badui datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian berkata, ‘Wahai Rasûlullâh, sesungguhnya syariat-syariat Islam sudah banyak pada kami. Beritahukanlah kepada kami sesuatu yang kami bisa berpegang teguh kepadanya ?’ Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Hendaklah lidahmu senantiasa berdzikir kepada Allâh Azza wa Jalla”
Ibnu Hibbân (no. 811-at-Ta’lîqâtul Hisân) dan al-Hâkim (I/495) dan Dishahihkan juga oleh Syaikh al-Albâni dalam Shahîhul Jâmi’is Shaghîr (no. 7700)

Pelajaran yang terdapat dalam hadits

- Manfaat dzikir kepada Allâh Azza wa Jalla banyak sekali, di antaranya yaitu:
1. Mengusir setan, menundukkan dan mengenyahkannya.
2. Menghilangkan kesedihan dan kemuraman dari hati.
3. Mendatangkan kegembiraan dan kesenangan dalam hati.
4. Melapangkan rizki dan mendatangkan barakah.
5. Membuahkan ketundukan, yaitu berupa kepasrahan diri kepada Allâh dan kembali kepada-Nya. Selagi dia lebih banyak kembali kepada Allâh dengan cara berdzikir, maka dalam keadaan seperti apapun dia akan kembali kepada Allâh dengan hatinya, sehingga Allâh menjadi tempat mengadu dan tempat kembali, kebahagiaan dan kesenangannya, tempat bergantung tatkala mendapat bencana dan musibah.
6. Membuahkan kedekatan kepada Allâh Azza wa Jalla . Seberapa jauh dia melakukan dzikir kepada Allâh, maka sejauh itu pula kedekatannya kepada Allâh, dan seberapa jauh ia lalai melakukan dzikir, maka sejauh itu pula jarak yang memisahkannya dari Allâh.
7. Membuat hati menjadi hidup. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t berkata, “Dzikir bagi hati sama dengan air bagi ikan, maka bagaimana keadaan yang akan terjadi pada ikan seandainya berpisah dengan air ??? ”
8. Membersihkan hati dari karatnya, karena segala sesuatu ada karatnya dan karat hati adalah lalai dan hawa nafsu. Sedang untuk membersihkan karat ini adalah dengan taubat dan istighfar.
9. Hamba yang mengenal Allâh, dengan cara berdo’adan berdzikir saat lapang, maka Allâh akan mengenalnya disaat ia menghadapi kesulitan.
10. Menyelamatkannya dari adzab Allâh sebagaimana yang dikatakan Mu’adz bin Jabal Radhiyallahu anhu dan dia memarfu’kannya ” Tidak ada amal yang dilakukan anak Adam yang lebih menyelamatkannya dari adzab Allâh, selain dari dzikir kepada Allâh Azza wa Jalla “HR. Ahmad (V/239).
11. Menyebabkan turunnya ketenangan, datangnya rahmat dan para Malaikat mengelilingi orang yang berdzikir, sebagaimana yang disabdakan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam .
12. Menjauhkan lisan dari melakukan ghibah, adu domba, dusta, kekejian dan kebathilan.

Tema hadist yang berkaitan dengan Al-Quran:

1- Dengan dzikir, hati akan menjadi tenang.

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allâh. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allâh hati menjadi tentram. [ar-Ra’d/13:28]

2- Allah Subhanahu wa Ta’ala mensyari’atkan shalat-shalat sunnah, dan mengisi waktu-waktunya dengan amal-amal yang wajib dan sunnah agar manusia senantiasa ingat kepada Allâh Subhanahu wa Ta’ala .

إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي

Sesungguhnya Aku ini adalah Allâh, tidak ada Ilah (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.” [Thâha/20:14]

3- Allâh Azza wa Jalla juga memerintahkan dzikir sesudah shalat :

فَإِذَا قَضَيْتُمُ الصَّلَاةَ فَاذْكُرُوا اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِكُمْ

Selanjutnya, apabila kamu telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Allâh ketika kamu berdiri, pada waktu duduk dan ketika berbaring…” [an-Nisâ’/4:103]

Selasa, 17 Oktober 2017

SESEORANG AKAN MENINGGAL SESUAI DENGAN KEBIASAANNYA (Dr. Firanda Andirja,MA.)

Nabi shallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

يُبْعَثُ كُلُّ عَبْدٍ عَلَى مَا مَاتَ عَلَيْهِ

"Setiap hamba akan dibangkitkan berdasarkan kondisi meninggalnya" (HR Muslim no 2878)

Berkata Al-Munaawi, أَيْ يَمُوْتُ عَلَى مَا عَاشَ عَلَيْهِ وَيُبْعَثُ عَلَى ذَلِكَ "Yaitu ia meninggal di atas kehidupan yang biasa ia jalani dan ia dibangkitkan di atas hal itu" (At-Taisiir bi Syarh Al-Jaami' As-Shogiir 2/859)

Para pembaca yang budiman… kita semua tahu bahwasanya kematian datang tiba-tiba…tidak peduli dengan kondisi seorang hamba apakah dalam keadaan ketaatan kepada Allah atau dalam keadaan sedang bermaksiat…, apakah dalam keadaan sakit ataupun dalam keadaan sehat… semuanya terjadi tiba-tiba…

Seorang penyair berkata :

تَزَوَّدْ مِنَ التَّقْوَى فَإِنَّكَ لاَ تَدْرِي***  إِذَا جَنَّ لَيْلٌ هَلْ تَعِيْشُ إِلَى الْفَجْرِ

Berbekallah ketakwaan karena sesungguhnya engkau tidak tahu…

Jika malam telah tiba apakah engkau masih bisa hidup hingga pagi hari

وَكَمْ مِنْ صَحِيْحٍ مَاتَ مِنْ غَيْرِ عِلَّةٍ *** وَكَمْ مِنْ عَلِيْلٍ عَاشَ حِيْناً مِنَ الدَّهْرِ

Betapa banyak orang yang sehat kemudian meninggal tanpa didahului sakit…

Dan betapa banyak orang yang sakit yang masih bisa hidup beberapa lama

فَكَمْ مِنْ فَتًى أَمْسَى وَأَصْبَحَ ضَاحِكًا *** وَقَدْ نُسِجَتْ أَكْفَانُهُ وَهُوَ لاَ يَدْرِِي

Betapa banyak pemuda yang tertawa di pagi dan petang hari

Padahal kafan mereka sedang ditenun dalam keadaan mereka tidak sadar

وَكَمْ مِنْ صِغَارٍ يُرْتَجَى طُوْلُ عُمْرِهِمْ *** وَقَدْ أُدْخِلَتْ أَجْسَامُهُمْ ظُلْمَةَ الْقَبْرِ

Betapa banyak anak-anak yang diharapkan panjang umur…

Padahal tubuh mereka telah dimasukkan dalam kegelapan kuburan

وَكَمْ مِنْ عَرُوْسٍ زَيَّنُوْهَا لِزَوْجِهَا *** وَقَدْ قُبِضَتْ أَرْوَاحُهُمْ لَيْلَةَ الْقَدْرِ

Betapa banyak mempelai wanita yang dirias untuk dipersembahkan kepada mempelai lelaki…

Padahal ruh mereka telah dicabut tatkala di malam lailatul qodar

Tentunya setiap kita berharap dianugrahi husnul khotimah… ajal menjemput tatkala kita sedang beribadah kepada Allah… tatkala bertaubat kepada Allah…sedang ingat kepada Allah… , akan tetapi betapa banyak orang yang berharap meninggal dalam kondisi husnul khotimah akan tetapi kenyataan yang terjadi adalah sebaliknya…. Suul khootimah… maut menjemputnya tatkala ia sedang bermaksiat kepada Penciptanya dan Pencipta alam semesta ini…

Bagaimana mungkin seseorang meninggal dalam kondisi husnul Khotimah sementara hari-harinya ia penuhi dengan bermaksiat kepada Allah… hari-harinya ia penuhi tanpa menjaga pendengarannya… pandangannya ia umbar… hatinya dipenuhi dengan beragam penyakit hati… lisannya jauh dari berdzikir dan mengingat Allah…

Ingatlah para pembaca yang budiman… sesungguhnya seseorang akan dicabut nyawanya berdasarkan kehidupan yang biasa ia jalankan…

Berikut ini adalah kisah-kisah yang mencoba menggugah hati kita untuk membiasakan diri beramal sholeh sehingga tatkala maut menjemput kitapun dalam keadaan beramal sholeh :

Kisah Pertama: kisah seorang ahli ibadah Abdullah bin Idriis (190-192 H)

عَنْ حُسَيْن الْعَنْقَزِي قَالَ: لَمَّا نَزَلَ بِابْنِ إِدْرِيْسَ الْمَوْتُ بَكَتْ ابْنَتُهُ فَقَالَ: لاَ تَبْكِي يَا بُنَيَّة، فَقَدْ خَتَمْتُ الْقُرْآنَ فِي هَذَا الْبَيْتِ أَرْبَعَةَ آلاَف خَتْمَة

Dari Husain Al-'Anqozi, ia bertutur :

Ketika kematian mendatangi Abdullah bin Idris, maka putrinya pun menangis, maka Dia pun berkata: "Wahai putriku, jangan menangis! Sungguh, Aku telah mengkhatamkan al Quran dirumah ini 4000 kali" (Lihat Taariikh Al-Islaam karya Ad-Dzahabi 13/250, Ats-Tsabaat 'inda Al-Mamaat karya Ibnil Jauzi hal 154)

Kisah kedua : Kisah Abu Bakr bin 'Ayyaasy (193 H)

لما حضرت أبا بكر بن عَيَّاش الوفاةُ بَكَتْ أُخْتُهُ فقال : لاَ تَبْكِ اُنْظُرِي إِلىَ تِلْكَ الزَّاوِيَةِ الَّتِي فِي الْبَيْتِ قَدْ خَتَمَ أَخُوْكَ فِي هَذِهِ الزَّاوِيَةِ ثَمَانِيَةَ عَشَرَ أَلَف خَتْمَة

Tatkala kematian mendatangi Abu Bakr bin 'Ayaasy maka saudara perempuannya pun menangis. Maka Abu Bakrpun berkata kepadanya, "Janganlah menangis, lihatlah di pojok rumah ini, sesungguhnya saudara laki-lakimu ini telah mengkhatamkan Al-Qur'an di situ sebanyak 18 ribu kali" (Lihat Hilyatul Auliyaa' karya Abu Nu'aim 8/304 dan Taariikh Baghdaad 14/383)

Demikianlah para pembaca yang budiman…Ahli ibadah ini Abdullah bin Idris telah mengkhatamkan Al-Qur'an sebanyak 4000 kali… Abu Bakr bin 'Ayyaasy telah mengkhatamkan Al-Qur'an sebanyak 18 ribu kali…..semuanya demi menghadapi waktu yang sangat kritis ini… waktu untuk meninggalkan dunia ke alam akhirat yang abadi….

Kisah Ketiga : Kisah Aamir bin Abdillah Az-Zubair

Mush'ab bin Abdillah bercerita tentang 'Aamir bin Abdillah bin Zubair yang dalam keadaan sakit parah :

سمع عامر المؤذن وهو يجود بنفسه فقال: خذوا بيدي إلى المسجد، فقيل: إنك عليل فقال: أسمع داعي الله فلا أجيبه فأخذوا بيده فدخل مع الإمام في صلاة المغرب فركع مع الإمام ركعة ثم مات

'Aaamir bin Abdillah mendengar muadzin mengumandangkan adzan untuk shalat maghrib, padahal ia dalam kondisi sakaratul maut pada nafas-nafas terakhir, maka iapun berkata, “Pegang tanganku ke mesjid…!!” merekapun berkata, "Engkau dalam kondisi sakit !" , Diapun berkata,”Aku mendengar muadzin mengumandangkan adzan sedangkan aku tidak menjawab (panggilan)nya? Pegang tanganku…! Maka merekapun memapahnya lalu iapun sholat maghrib bersama Imam berjama'ah, diapun shalat satu rakaat kemudian meninggal dunia. (Lihat Taariikh Al-Islaam 8/142)

Inilah kondisi seorang alim yang senantiasa mengisi kehidupannya dengan beribadah sesegera mungkin… bahkan dalam kondisi sekarat tetap ingin segera bisa sholat berjama'ah…. Bandingkanlah dengan kondisi sebagian kita… yang tatkala dikumadangkan adzan maka hatinya berbisik : "Iqomat masih lama…., entar lagi aja baru ke mesjid…, biasanya juga imamnya telat ko'…, selesaikan dulu pekerjaanmu.. tanggung…", dan bisikan-bisikan yang lain yang merupakan tiupan yang dihembuskan oleh Iblis dalam hatinya.

Kisah Di masa Sekarang:

Pertama : Kisah Penumpang Kapal Mesir “Salim Express”

Laki-laki ini telah Allah selamatkan dari tenggelam pada kecelakaan kapal, “Salim Express” menceritakan kisah istrinya yang tenggelam dalam perjalanan pulang dari menunaikan ibadah haji. Orang-orang berteriak-teriak “kapal akan tenggelam” maka aku pun berteriak kepada istriku …“ayo cepat keluar!”

Dia pun berkata, “Demi Allah aku tidak akan keluar sampai aku memakai hijabku dengan sempurna.”

Suaminya pun berkata,” inikah waktu utk memakai hijab??? Cepat keluar! Kita akan mati”.

Dia pun berkata, “Demi Allah aku tidak akan keluar kecuali jika telah kukenakan hijabku dengan sempurna, seandainya aku mati aku pun akan bertemu Allah dalam keadaan mentaati-Nya”. Maka dia pun memakai hijabnya dan keluar bersama suaminya, maka ketika semuanya hampir tenggelam, dia memegang suaminya dan berkata, “Aku minta engkau bersumpah dengan nama Allah, apakah engkau ridho terhadapku?” Suaminya pun menangis. Sang istripun berkata, ”Aku ingin mendengarnya.” Maka Suaminya Menjawab, “Demi Allah aku ridho terhadapmu.” Maka wanita tersebut pun menangis dan berucap ”Asyhadu allaa ilaaha illallah wa asyhadu anna Muhammad Rasulullah” senantiasa dia ulangi syahadat tersebut sampai tenggelam.

Suaminya pun menangis dan berkata, “Aku berharap kepada Allah agar mengumpulkan aku dan dia di surga”

Kedua : Kisah seorang tukang adzan (Muadzdzin)

Dia adalah seorang yang selama 40 tahun telah mengumandangkan adzan, tanpa mengharap imbalan selain wajah Allah. Sebelum meninggal ia sakit parah, maka dia pun didudukkan di atas tepat tidur. Dia tak dapat berbicara lagi dan juga untuk pergi kemasjid. Ketika sakit semakin parah diapun menangis, orang-orang disekitarnya melihat adanya tanda-tanda kesempitan di wajahnya. Seakan-akan dia berucap ya Allah aku telah beradzan selama 40 tahun, engkau pun tahu aku tidak mengharap imbalan kecuali dari Engkau kemudian akan terhalangi dari adzan di akhir hidupku?. Kemudian berubahlah tanda-tanda diwajahnya menjadi kegembiraan dan kesenangan. Anak-anaknya bersumpah bahwasanya  ketika tiba waktu adzan ayah mereka pun berdiri di atas tempat tidurnya dan menghadap kiblat kemudian mengumandangkan adzan di kamarnya, ketika sampai pada kalimat adzan yang terkahir "laa ilaaha illallah” dia pun jatuh di atas tempat tidurnya. Anak-anaknya pun segera menghampirinya, mereka pun mendapati ruhnya telah menuju Allah.

Para pembaca yang budiman…jika kematian telah tiba maka seluruh harta dan kekuasaan yang telah kita usahakan dan perjuangakan dengan mengerahkan seluruh tenaga dan peras keringat akan sirna…

Kisah Khalifah Al-Ma'muun,

Ketika sakaratul maut mendatanginya diapun memanggil para tabib di sekelilingnya berharap agar bisa menyembuhkan penyakitanya. Tatkala ia merasa berat (parah sakitnya) maka ia berkata, "Keluarkanlah aku agar aku melihat para pasukan perangku dan aku melihat anak buahku serta aku menyaksikan kekuasaanku", takala itu di malam hari. Maka Khalifah Al-Makmuun pun dikeluarkan lalu ia melihat kemah-kemah serta pasukan perangnya yang sangat banyak jumlahnya bertebaran di hadapannya, dan dinyalakan api. (Tatkala melihat itu semua) iapun berkata, يَا مَنْ لاَ يَزُوْلُ مُلْكُهُ اِرْحَمْ مَنْ قَدْ زَالَ مُلْكُهُ “Wahai Dzat yang tidak akan pernah musnah kerajaannya… Sayangilah orang yang telah hilang kerajaannya…". Lalu iapun pingsan.

Kemudian datanglah seseorang disampingnya hendak mentalqinnya kalimat syahadah, lalu Khalafah Al-Makmuun membuka kedua matanya tatkala itu dalam keadaan wajahnya yang merah dan berat, ia berusaha untuk berbicara akan tetapi ia tidak mampu. Lalu iapun memandang ke arah langit dan kedua matanya dipenuhi dengan tangisan maka lisannya pun berucap tatkala itu, يَا مَنْ لاَ يَمُوْتُ اِرْحَمْ مَنْ يَمُوْتُ "Wahai Dzat Yang tidak akan mati sayangilah hambaMu yang mati", lalu iapun meninggal dunia. (Lihat Muruuj Adz-Dzahab wa Ma'aadin Al-Jauhar karya Al-Mas'uudi 2/56 dan Taariik Al-Islaam karya Adz-Dzahabi 15/239)

Kisah Khalifah Abdul Malik bin Marwaan:

Tatkala ajal menjemput Khalifah Abdul Malik bin Marwaan maka iapun memerintahkan untuk dibukakan pintu istana, tiba-tiba ada seorang penjaga istana yang sedang mengeringkan bajunya di atas batu, maka iapun berkata, "Siapa ini?", maka mereka menjawab, "Seorang penjaga istana". Maka iapun berkata, "Seandainya aku adalah seorang penjaga istana…". Ia juga berkata, "Seandainya aku adalah budak miliki seorang yang tinggal di pegunungan Tihaamah, lantas akupun menggembalakan kambing di pegunungan tersebut".

Diantara perkataan terakhir yang diucapkannya adalah,

اللَّهُمَّ إِنْ تَغْفِرْ تَغْفِرْ جَمًّا، لَيْتَنِي كُنْتُ غَسَّالاً أَعِيْشُ بِمَا أَكْتَسِبُ يَوْماً بِيَوْمٍ

"Yaa Allah, jika engkau mengampuniku maka berilah pengampunanMu yang luas, seandainya aku hanyalah seorang tukang cuci, aku hidup dari hasil penghasilanku sehari untuk kehidupan sehari"

Dan diriwayatkan bahwsanya tatkala Khalifah Abdul Malik bin Marwan sakit parah maka iapun berkata, "Keluarkanlah aku di beranda istana…", kemudian ia melihat megahnya kekuasaannya lalu iapun berkata, يَا دُنْيَا مَا أَطْيَبَكِ أَنَّ طَوِيْلَكِ لَقَصِيْرٌ وَأَنَّ كَبِيْرَكِ لَحَقِيْرٌ وَأَنْ كُنَّا مِنْكِ لَفِي غُرُوْرٍ "Wahai dunia sungguh indah engkau…, ternyata lamanya waktumu sangatlah singkat, kebesaranmu sungguh merupakan kehinaan, dan kami ternyata telah terpedaya olehmu". Lalu iapun mengucapkan dua bait berikut ini ;

إِنْ تُنَاقِشْ يَكُنْ نِقَاشُكَ يَارَبَّ  عَذَابًا لاَ طَوْقَ لِي بِالْعَذَابِ

Jika engkau menyidangku wahai Robku maka persidanganMu itu merupakan sebuah adzab yang tidak mampu aku hadapi

أَوْ تَجَاوَزْتَ فَأَنْتَ رَبٌّ صَفُوْحٌ  عَنْ مُسِيْءٍ ذُنُوْبَهُ كَالتُّرَابِ

Atau jika engkau memaafkan aku maka engkau adalah Tuhan Yang Maha memaafkan dosa-dosa seorang hamba yang bersalah"

(Lihat Mukhtashor Taariikh Dimasyq 5/88-89 dan Al-Kaamil fi At-Taariikh 4/238-239)

Para pembaca yang budiman…. Janganlah terpedaya dengan gemerlapnya dunia ini…

Rasulullah bersabda,

أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَادِمِ اللَّذَّاتِ

"Perbanyaklah kalian mengingat penghancur keledzatan", yaitu kematian (Dishahihkan oleh syaikh Al-Albani dalam irwaa al-goliil 3/145)

Imam Al-Qurthubi berkata: "Ketahuilah sesungguhnya mengingat kematian menyebabkan kegelisahan dalam kehidupan dunia yang akan sirna ini, dan menyebabkan kita untuk senantiasa mengarah ke kehidupan akhirat yang abadi.

Seseorang tidak akan terlepas dari dua kondisi, kondisi lapang dan sulit, kondisi di atas kenikmatan atau di atas ujian. Jika ia berada pada kondisi sempit dan di atas ujian maka dengan mengingat mati akan terasa ringanlah sebagian ujian dan kesempitan hidupnya, karena ujian tersebut tidak akan langgeng dan kematian lebih berat dari ujian tersebut. Atau jika ia berada dalam kondisi penuh kenikmatan maka mengingat mati akan menghalanginya agar tidak terpedaya dengan kenikmatan tersebut"  (At-Tadzkiroh 1/123-124)

Imam Al-Qurthubi juga berkata:

و كان يزيد الرقاشي يقول لنفسه : و يحك يا يزيد من ذا يصلي عنك بعد الموت ؟ من ذا يصوم عنك بعد الموت؟ من ذا يترضى عنك ربَّك بعد الموت؟ ثم يقول : أيها الناس ألا تبكون وتنوحون على أنفسكم باقي حياتكم؟ من الموت طالبه والقبر بيته والثرى فراشه والدود أنيسه وهو مع هذا ينتظر الفزع الأكبر يكون حاله؟ ثم يبكي حتى يسقط مغشيا عليه

Yazzid Ar-Ruqoosyi berkata kepada dirinya : "Celaka engkau wahai Yaziid, siapakah yang akan sholat mewakilimu jika engkau telah meninggal?, siapakah yang akan mewakilimu berpuasa setelah kematianmu?, siapakah yang mendoakan engkau agar Robmu meridhoimu setelah matimu?". Lalu ia berkata, "Wahai manusia, janganlah kalian menangisi diri kalian sepanjang hidup kalian, barangsiapa yang kematian mencarinya, kuburan merupakan rumahnya, tanah merupakan tempat tidurnya, dan ulat-ulat menemaninya, serta ia dalam kondisi demikian menantikan tibanya hari kiamat yang sangat dahysat maka bagaimanakah kondisinya?". Lalu iapun menangis dan menangis hingga jatuh pingsan. (Lihat At-Tadzikorh 1/124)

Kisah penutup :

Dari Abdullah putra Imam Ahmad bin Hambal berkata:

لَمَّا حَضَرَتْ أَبِي الْوَفَاةُ جَلَسْتُ عِنده وَبِيَدِي الْخِرْقَةُ لأَشُدَّ بِهَا لِحْيَيْهِ فَجَعَلَ يَعْرَقُ ثُمَّ يُفِيْقُ ثُمَّ يفتح عينيه ويقول بيده هكذا : "لاَ بَعْدُ" ففعل هذا مرةً وثانيةً، فلما كان في الثالثة قلت له : يَا أَبَةِ أَيُّ شَيْءٍ هَذَا قَدْ لَهَجْتَ بِهِ فِي هَذَا الْوَقْتِ تَعْرَقُ حَتَّى نَقُوْلُ قَدْ قُبِضْتَ ثُمَّ تَعُوْدُ فَتَقُوْلَ : لاَ، لاَ بَعْدُ. فقال لي : يا بُنَيَّ مَا تَدْرِي؟ قلتُ :لاَ، قال : إبليس لعنه الله قائم حذائي عَاضٍّ على أَنَامِلِهِ يقول لي : يا أحمدُ فُتَّنِي فَأَقُوْلُ لَهَ : لاَ بَعْدُ حَتَّى أَمُوْتَ

Tatkala kematian mendatangi ayahku maka akupun duduk disampingnya, dan di tanganku ada sepotong kain untuk mengikat dagu beliau (yang dalam keadaan tidak sadarkan diri). Maka beliaupun mencucurkan keringat lalu beliau tersadar dan membuka kedua mata beliau dan beliau berkata, "Tidak, belum…!" seraya menggerakkan tangan beliau (memberi isyarat penolakan). Lalu beliau melakukan hal yang sama untuk sekali lagi, kedua kali lagi. Dan tatkala beliau mengulangi hal ini (mengucapkan : "Tidak, belum..!, seraya menebaskan tangan beliau) untuk ketiga kalinya maka akupun berkata, "Wahai ayahanda, ada apa gerangan?, engkau mengucapkan perkataan ini dalam kondisi seperti ini?". Engkau mencucurkan keringat hingga kami menyangka bahwa engkau telah meninggal dunia, akan tetapi kembali engkau berkata, "Tidak, tidak…, belum…!". Lalu ia berkata, "Wahai putraku, engkau tidak tahu?", aku berkata, "Tidak". Ia berkata, "Iblis –semoga Allah melaknatnya- telah berdiri dihadapanku seraya menggigit jari-jarinya, dan berkata, "Wahai Ahmad engkau telah lolos dariku", maka aku berkata kepadanya, "Tidak, belum, aku belum lolos dan menang darimu hingga aku meninggal" (lihat Sifat As-Sofwah 2/357)

Kisah ini mengingatkan kepada kita bahwasanya pertempuran melawan Iblis dan para pengikutnya tidak pernah berhenti hingga maut menjemput kita. kita tidak boleh pernah lalai dan merasa telah mengalahkan Iblis, karena Iblis dan para pengikutnya akan senantiasa mengintai dan mencari celah-celah untuk menjeremuskan kita sehingga bisa menemaninya di neraka Jahannam yang sangat panas….!!!!, Maka wasapadalah selalu… melawan musuh yang melihatmu padahal engkau tidak melihatnya… musuh yang senantiasa mendatangimu dari arah depan, belakang, kanan, dan kiri sementara engkau dalam keadaan lalai…. Musuh yang sudah sangat berpengalaman dalam menjerumuskan anak keturunan Adam dengan berbagai metode dan jerat…. Hanya kepada Allahlah kita mohon keselamatan dari musuh yang seperti ini modelnya… walaa haulaa wa laa quwwata illaa billaaah

Saudaraku yang mulia…!!

Allah Yang Maha Mulia telah memberlakukan sunnatullahNya bahwasanya: “Orang yang hidup di atas sesuatu pola/model kehidupan maka ia pun akan mati di atas model tersebut, dan kelak ia akan dibangkitkan di atas model tersebut”

Siapkanlah dirimu menyambut tamu yang akan mendatangimu secara tiba-tiba…yaitu kematian, jangan sampai tamu tersebut menemuimu dalam kondisi engkau sedang bermaksiat kepada Robmu.

Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang mengamalkan ilmunya.

Madinah, 28 06 1432H / 31 05 2011M

Abu Abdilmuhsin Firanda Andirja

Tiga Perkara Yang Mengikuti Jenazah / ONE DAY ONE HADIST

Selasa,17 Oktober 2017

27 Muharram 1439

عن أنس رضي الله عنه عن رَسُول الله صلى الله عليه وسلم، قَالَ: ((يَتْبَعُ المَيتَ ثَلاَثَةٌ: أهْلُهُ وَمَالُهُ وَعَملُهُ، فَيَرجِعُ اثنَانِ وَيَبْقَى وَاحِدٌ: يَرجِعُ أهْلُهُ وَمَالُهُ، وَيَبقَى عَملُهُ)). مُتَّفَقٌ عَلَيهِ.

Dari Anas bin Malik Rhadiyyalu Anhum bahwa Nabi Muhammad Shalallahu Allaihi Wassalam bersabda:
“ Si mati itu diikuti oleh tiga golongan. Akan kembali dua golongan dan satu golongan akan tetap menemaninya. Dia akan diikuti oleh keluarganya, hartanya dan amalnya. Maka keluarga dan hartanya akan kembali pulang sementara amalnya akan tetap menemaninya ”.[ Hr Muttafaqun alaihi.]

Pelajaran yang terdapat dalam hadits:

1-  Orang memiliki keluarga yang selalu bergaul dengan dirinya dan juga harta sebagai bekal dan perhiasan hidupnya.
2- Dua teman ini selalu menyertainya dan suatu saat akan berpisah dengannya.
3- Maka orang yang berbahagia adalah orang yang menjadikan harta sebagai jalan untuk berzikir kepada Allah Azza Wa Jaala dan menafkahkannya untuk kepentingan akhirat, dan dia mengambil harta itu untuk kehidupan akhirat, dia mencari isteri yang solehah yang boleh menjaga keimanannya, menjadikan anak-anaknya shaleh dan shalehah supaya menjadi amal saleh dan pahala yang baik disisiNya.
4- Hadist ini juga memberikan petunjuk untuk memperbaiki terus amal kita diantaranya: Harus ihlas dan benar, supaya tidak menjadi amalan yang sia-sia disisi Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Tema hadist yang berkaitan dengan Al-Quran:

1- Adapun orang yang menjadikan harta dan keluarga yang menyibukkannya sehingga melalaikan Allah maka dia temasuk orang yang rugi.

شَغَلَتْنَا أَمْوَالُنَا وَأَهْلُونَا فَاسْتَغْفِرْلنَا

"Harta dan keluarga kami telah menyibukkan kami, maka mohonkanlah ampun untuk kami…”. (QS. Al-Fath: 11).

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَن ذِكْرِ اللَّهِ وَمَن يَفْعَلْ ذَلِكَ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dananak anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barang siapayang membuat demikian maka mereka itulah orang-orang yangrugi.. (QS. Al-Munafiqun: 9).

2-Maka apabila anak Adam mati, dan meninggalkan dunia ini maka dia tidak mengambil manfaat apapun dari keluarga dan hartanya kecuali do’a keluarga baginya, permohonan ampun mereka untuk dirinya dan perbuatan-perbuatan yang dijelaskan oleh syara’ yang boleh mendatangkan manfaat untuk dirinya serta apa yang di keluarkan dari hartanya untuk manfaat dirinya.

يَوْمَ لَا يَنفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ

(iaitu) di hari di mana harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna. kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih”.
ah dengan hati yang bersih”.
Al-Asyu’ara: 88-89.

Sabtu, 07 Oktober 2017

SEMUA TENTANG ILMU (3)

Keutamaan Ilmu >> Keutamaan Ilmu atas Harta

Al-Imam ibnul-Qayyim rahimahullah menjelaskan tentang keutamaan ilmu atas harta dari 40 sisi. Dan di antara yang beliau sebutkan:

1-ilmu adalah warisan para Nabi sedangkan harta adalah warisan para Raja dan orang kaya.
2-ilmu menjaga pemiliknya sedangkan pemilik harta menjaga hartanya,
3-harta didapatkan oleh orang beriman dan kafir, orang baik dan jelek, sedangkan ilmu yang bermanfaat tidak didapatkan kecuali orang beriman.
4-orang yang berilmu dibutuhkan oleh para Raja dan orang-orang di bawahnya, sedangkan pemilik harta hanya dibutuhkan oleh orang miskin dan membutuhkan.
5-pemilik harta jika meninggal maka hartanya meninggalkannya, sedangkan ilmu masuk bersama pemiliknya ke dalam kuburnya.
(Miftah Dãris-Sa'ãdah:1/418-435, lihat Raf'ul-Ilmi:16)

Sungguh indah apa yang dikatakan oleh Amirul-Mu'minin Ali ibn Abi Thalib radhiyallahu anhu:

اﻟﻌﻠﻢ ﺧﻴﺮ ﻣﻦ اﻟﻤﺎﻝ، اﻟﻌﻠﻢ يحرسك ﻭﺃﻥ ﺗﺤﺮﺱ اﻟﻤﺎﻝ، اﻟﻌﻠﻢ ﻳﺰﻛﻮ ﻋﻠﻰ اﻟﻌﻤﻞ ﻭاﻟﻤﺎﻝ ﺗﻨﻘﺼﻪ اﻟﻨﻔﻘﺔ.

Ilmu itu lebih baik dari harta, ilmu menjagamu sedangkan engkau menjaga harta. Ilmu itu mengembangkan amal, sedangkan harta berkurang karena nafkah.
(Hilyatul-Auliyã':1 /79)

Dan berkata seorang penyair:

رضينا قسمة الجبار فينا
     لنا علم وللجهال مال

فعز المال يفنى عن قريب
     وعز العلم باق لا يزال

Kami ridha dengan pembagian Al-Jabbar pada kami,
Bagian kami adalah ilmu dan bagian orang jahil adalah harta.

Kemuliaan harta dalam waktu dekat akan sirna,
Sedangkan kemuliaan ilmu senantiasa abadi.
(Raf'ul-Ilmi:17)

Bergembiralah wahai para pemburu ilmu atas kemuliaan yang senantiasa bersamamu.!

وبالله التوفيق.

Muhammad Abu Muhammad Pattawe,
Darul-Hadits Ma'bar-Yaman.
========================

SEMUA TENTANG ILMU (2)

Keutamaan Ilmu >> Keutamaan Ilmu atas Ibadah

Sungguh Allah Subhanahu wa Ta'ala telah memuji ilmu dan ahli ilmu, dan memotivasi hamba-hambaNya untuk (meraih) ilmu dan berbekal dengannya, begitu juga (motivasi) dalam Sunnah.

Ilmu termasuk amalan shaleh yang paling utama, dan termasuk ibadah sunnah yang paling utama dan paling mulia, karena ilmu merupakan salah satu bentuk jihad fisabilillah.
(Kitabul-Ilmi:11)

Keutamaan ilmu atas ibadah dilihat dari beberapa sisi:
1-Allah Subhanahu wa Ta'ala menyebut ilmu sebelum ibadah,
Allah berfirman:

{فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ ۗ ْ}

Maka ketahuilah (ilmuilah), bahwasanya tidak ada sembahan yang berhak untuk disembah kecuali Allah, dan mohon ampunlah bagi dosamu dan dosa orang-orang beriman laki-laki dan perempuan. (QS.Muhammad;19)

2-ilmu adalah pondasi ibadah. Ibadah merupakan kandungan, kelaziman, manfaat, dan buah dari ilmu.

3-ilmu adalah inti dan spirit ibadah. Oleh karena itu, jika ilmu hilang dari suatu ibadah maka ibadah tersebut seperti jasad tanpa ruh.
(Diringkas dari Raf'ul-Ilmi:10-11, Lisy-Syaikh Muhammad Al-Imam hafidzahullah)

Oleh karena itu, telah shahih dari Imam Rabi'ah rahimahullah ia berkata:

العلم وسيلة إلى كل فضيلة

Ilmu adalah wasilah (untuk meraih) berbagai keutamaan.
(As-Siyar:6/90)

Barangsiapa mendambakan berbagai keutamaan, maka sibukkanlah diri dengan ilmu.

وبالله التوفيق.

Muhammad Abu Muhammad Pattawe,
Darul-Hadits Ma'bar-Yaman.
========================

SEMUA TENTANG ILMU (1)

Pengertian Ilmu

Ketahuilah wahai saudaraku, bahwa ilmu yang dimaksud dalam Al-Qur'an dan As-Sunnah adalah ilmu syar'i atau ilmu agama. Begitu juga penggunaan kata ilmu oleh para Ulama adalah ilmu syar'i.

Allah Azza wa Jalla berfirman:

{... يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ ۚ }

Allah mengangkat orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang berlimu beberapa derajat. (QS.Al-Mujadalah:11)

Berkata Al-Imam Ibnul-Qayyim rahimahullah tentang ayat di atas:

أي: العلم الذي بعث الله به نبيه

Maksudnya: ilmu yang dengannya Allah utus Nabi-Nya.
(I'lãmul-Muwaqqi'in:4/131, lihat Raf'ul-Ilmi:20)

Berkata Al-Allamah Al-Faqih Al-Utsaimin rahimahullah:

ﻭاﻟﻤﺮاﺩ ﺑﻪ: ﻋﻠﻢ ﻣﺎ ﺃﻧﺰﻝ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻰ ﺭﺳﻮﻟﻪ ﻣﻦ اﻟﺒﻴﻨﺎﺕ ﻭاﻟﻬﺪﻯ، ﻓﺎﻟﻌﻠﻢ اﻟﺬﻱ ﻓﻴﻪ اﻟﺜﻨﺎء ﻭاﻟﻤﺪﺡ ﻫﻮ ﻋﻠﻢ اﻟﻮﺣﻲ، ﻋﻠﻢ ﻣﺎ ﺃﻧﺰﻝ اﻟﻠﻪ ﻓﻘﻂ.

Yang dimaksud dengan ilmu: yaitu ilmu yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya berupa penjelasan dan petunjuk. Ilmu yang padanya terdapat pujian dan sanjungan adalah ilmu wahyu (syar'i), yaitu ilmu yang Allah turunkan (dalam Al-Qur'an dan As-Sunnah).
(Kitab Al-Ilmi:9)

Berkata Al-Allamah Muhammad Al-Imam hafidzahullah:

إذا أطلق العلم في القرآن والسنة فالمراد به العلم الشرعي.

Jika disebut ilmu dalam Al-Qur'an dan As-Sunnah, maka yang dimaksud adalah ilmu syar'i.
(Raf'ul-Ilmi:20)

Itulah ilmu, yaitu ilmu yang bersumber dari Al-Qur'an dan As-Sunnah, selain itu maka dipenuhi dengan berbagai penyimpangan dan was-was syaithan.

Berkata Nashirus-Sunnah Al-Imam Asy-Syafi'i rahimahullah:

ﻛﻞ اﻟﻌﻠﻮﻡ ﺳﻮﻯ اﻟﻘﺮﺁﻥ ﻣﺸﻐﻠﺔ ... ﺇﻻ اﻟﺤﺪﻳﺚ ﻭﺇﻻ اﻟﻔﻘﻪ ﻓﻲ اﻟﺪﻳﻦ.

اﻟﻌﻠﻢ ﻣﺎ ﻛﺎﻥ ﻓﻴﻪ ﻗﺎﻝ ﺣﺪﺛﻨﺎ ... ﻭﻣﺎ ﺳﻮﻯ ﺫاﻙ ﻭﺳﻮاﺱ اﻟﺸياطين.

Semua ilmu selain Al-Qur'an adalah melalaikan,
kecuali ilmu Hadits dan Fiqih dalam agama.
Ilmu adalah yang di dalamnya terdapat Haddatsana (ilmu hadits), selain dari itu adalah was-was syaithan.

(Thabaqãt Asy-Syãfi'iyyah Al-Kubra:1/297)

وبالله التوفيق.

Muhammad Abu Muhammad Pattawe,
Darul-Hadits Ma'bar-Yaman.
========================

ONE DAY ONE HADIST* *Surga dan Neraka Begitu Dekat*


عن ابن مسعود رضي الله عنه قَالَ: قَالَ النَّبيّ صلى الله عليه وسلم: ((الجَنَّةُ أَقْرَبُ إِلَى أَحَدِكُمْ مِنْ شِرَاكِ نَعْلِهِ، وَالنَّارُ مِثلُ ذلِكَ)). رواه البخاري.

Dari Ibnu Mas'ud Radhiyallahu Anhum katanya: "Rosulullah bersabda: "Syurga itu lebih dekat pada seseorang di antara engkau sekalian daripada ikat terumpahnya, neraka pun demikian pula." (Riwayat Bukhari)

Pelajaran yang terdapat dalam hadits:

1- untuk mencapai surga atau neraka itu mudah sekali.
2- Jika seseorang ingin mendapatkan surga tentulah wajib mempunyai kesengajaan yang benar, melakukan ketaatan dan kebaktian kepada Tuhan, melaksanakan semua perintah dan menjauhi semua laranganNya. Tetapi jika ingin memasuki neraka, tentulah dengan jalan mengikuti apa saja yang menjadi kehendak hawa nafsu, menuruti kemauan syaitan dan melakukan apa saja yang berupa kemaksiatan dan kemungkaran.

Tema hadist yang berkaitan dengan Al-Quran:

- Orang-orang yang berada dineraka dan di surga dengan segala sifatnya

فَأَمَّا مَنْ طَغَى()وَآثَرَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا () فَإِنَّ الْجَحِيمَ هِيَ الْمَأْوَى () وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَى () فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَى ()

Adapun orang yang melampaui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggal (nya). Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal (nya).
(An-Nazi'at: 37-38 39-40-41)

Selasa, 22 Agustus 2017

LARANGAN BAGI SESEORANG YANG HENDAK BERKURBAN

1 Dzulhijjah 1438 H diperkirakan akan jatuh pada hari *Selasa tanggal 22 Agustus 2017* , Maka *tanggal 10 Dzulhijjah atau Idul Adha diperkirakan pada hari Kamis, 31 Agustus 2017*. Jadi baiknya yang kurban untuk bersih-bersih diri sebelum tanggal tersebut.

Dengan demikian hari *Senin tanggal 21 Agustus 2017 atau 29 Dzul qa’dah 1438 H* adalah hari terakhir untuk memotong rambut dan kuku bagi yang sudah berniat dan ingin menyembelih hewan qurban.

Karena ada larangan potong kuku dan rambut badan serta kepala bagi yang berniat qurban. Larangan ini berlaku mulai 1 Dzulhijjah.

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا دَخَلَتِ الْعَشْرُ وَأَرَادَ أَحَدُكُمْ أَنْ يُضَحِّىَ فَلاَ يَمَسَّ مِنْ شَعَرِهِ وَبَشَرِهِ شَيْئً ا

“Apabila telah masuk sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah, dan salah seorang dari kalian telah berniat untuk berqurban, maka janganlah ia memotong rambutnya dan kulitnya sedikitpun.” [HR. Muslim dari Ummu salamah radhiyallahu’anha]

Dalam riwayat yang lain,

فَلاَ يَأْخُذَنَّ مِنْ شَعْرِهِ وَلاَ مِنْ أَظْفَارِهِ شَيْئًا حَتَّى يُضَحِّىَ

📋“Janganlah ia memotong rambutnya dan kukunya sedikitpun sampai ia menyembelih.” [HR. Muslim dari Ummu Salamah radhiyallahu’anha]

*Beberapa Pelajaran* :

1. Larangan memotong rambut, kuku dan kulit ini berlaku bagi orang yang telah berniat kurban, adapun keluarganya yang akan ia sertakan, tidaklah berlaku bagi mereka, kecuali jika masing-masing dari mereka berkurban.

2. Rambut yang dimaksud mencakup rambut seluruh tubuhnya, baik di kepalanya maupun badannya.

3. Larangan tersebut berlaku untuk cara apapun dan untuk bagian kuku dan rambut manapun. Artinya mencakup larangan mencukur gundul atau mencukur sebagian saja, atau sekedar mencabutinya. Baik rambut itu tumbuh di kepala, kumis, sekitar kemaluan maupun di ketiak (Shahih Fiqih Sunnah II:376).

4. Barangsiapa yang melanggar ketentuan ini karena lupa atau belum tahu hukumnya maka ia tidak berdosa, tidak pula membayar fidyah atau kaffarah. Barangsiapa yang melanggarnya dengan sengaja maka hendaklah ia bertaubat kepada Allah ta’ala dan tidak ada kewajiban fidyah atau kaffarah atasnya.

Ibnu Qudamah –rahimahullah- berkata: “Jika telah ditetapkan dalam beberapa riwayat, maka ia tidak boleh mencukur rambut, dan memotong kuku. Dan jika ia melakukannya maka harus bertaubat kepada Allah –Ta’ala-, namun tidak ada fidyah baik karena sengaja atau lupa, ini merupakan hasil ijma’ para ulama “. (al Mughni: 9/346)

5. Orang yang mewakili penyembelihan hewan kurban orang lain, tidak terkena larangan di atas.

6. Bagi orang yang telah memotong kukunya atau memangkas rambutnya pada awal Dzulhijjah karena tidak ada niatan untuk berkurban, maka tidak mengapa. Kemudian keinginan itu muncul di pertengahan sepuluh hari pertama (misalnya pada tanggal 4 Dzulhijjah), maka sejak hari itulah dia harus manahan diri dari memotong rambut atau kukunya.

7. Orang yang sangat terdesak untuk memotong sebagian kuku atau rambut karena akan membahayakan, seperti pecahnya kuku atau adanya luka di kepala yang menuntut untuk dipangkas, maka tidak apa-apa. Karena orang yang berkurban tidaklah lebih daripada orang yang berihram yang pada saat sakit atau terluka kepalanya dibolehkan untuk memangkasnya. Hanya saja bagi yang berihram terkena fidyah, sementara orang yang berkurban tidak.

8. Dalam mandi besar atau keramas biasanya ada beberapa lembar rambut yang akan rontok dan terbawa bersama air, bagaimanakah ini?

Laki-laki dan perempuan yang ingin berkurban tidak dilarang untuk keramas pada sepuluh hari pertama Dzulhijjah, walaupun akan ada satu, dua, atau lebih helai rambutnya yang rontok. Karena larangan Nabi Shallallaahu 'Alaihi Wasallam tersebut bagi yang sengaja memotong atau memangkas dan juga karena orang berihram tetap dibolehkan untuk membasahi rambutnya.

*Sebagian ulama menyebutkan hikmahnya adalah* :

1. Hikmahnya agar seluruh anggota tubuh orang yang berkurban tetap lengkap sehingga bisa dibebaskan dari api Neraka.

2. Ada pendapat juga hikmahnya adalah membiarkan rambut dan kuku tetap ada dan dipotong bersama sembelihan kurban, sehingga menjadi bagian kurban disisi Allah.

3. Mencocoki orang yang berihram haji dan umrah karena orang yang berihram untuk haji dan umrah juga tidak boleh memotong kuku dan rambut.

Firman Allah :

وَلا تَحْلِقُوا رُءُوسَكُمْ حَتَّى يَبْلُغَ الْهَدْيُ مَحِلَّه

"..... dan jangan kamu mencukur (rambut) kepalamu, sebelum kurban sampai di tempat penyembelihan...".

[al-Baqarah/2 : 196].

4. Namun hikmahnya yang terbesar adalah dalam rangka taat kepada ketentuan Allah subhanahu wa ta’ala dan meneladani Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam.

Allahu a’lam

Abu Syamil Humaidy

SEDANG FUTURKAH AKU ???


⁠⁠⁠بِسْـــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيْمِ

Alhamdulillah, Allah masih memberi nikmat sehat, iman, ihsan, dan Islam pada kita semua. Semoga kita semua selalu dipersatukan Allah hingga jannah-Nya nanti. (Aamiin)

Futur adalah satu penyakit yang sering menyerang sebagian ahli ibadah, para da'i dan penuntut ilmu. Sehingga menjadi lemah dan malas, bahkan terkadang berhenti sama sekali dari melakukan aktivitas kebaikan, misalnya futur dalam menuntut ilmu syar'i, futur dalam aktivitas dakwah, futur dalam beribadah kepada Allah dan lainnya.

Orang yang terkena penyakit futur ini ada 3 golongan:

1. Golongan yang berhenti sama sekali dari aktivitasnya dengan sebab futur, dan golongan ini banyak sekali.

2. Golongan yang terus dalam kemalasan dan patah semangat, namun tidak sampai berhenti sama sekali dari aktivitasnya, dan golongan ini lebih banyak lagi.

3. Golongan yang kembali pada keadaan semula, dan golongan ini sangat sedikit.

Sebab-sebab Futur ini sebagiannya ada  yang bersifat umum dan ada yang bersifat khusus.

Diantara sebab-sebab futur:

1. Hilangnya keikhlasan

2. Lemah dalam menuntut ilmu syar'i

3. Ketergantungan hati kepada dunia dan melupakan akhirat

4. Fitnah (cobaan) berupa istri, anak dan harta

5. Hidup di tengah masyarakat yang rusak.

6. Berteman dengan orang-orang yang memiliki keinginan yang lemah dan cita-cita duniawi

7. Melakukan dosa dan maksiat serta memakan barang-barang yang haram.

8. Tidak mempunyai tujuan yang jelas (baik dalam menuntut ilmu maupun berdakwah)

9. Lemahnya iman.

10. Menyendiri (tidak mau bergaul dengan komunitas yang baik).

11. Lemahnya pendidikan.

Futur adalah penyakit yang sangat ganas, namun tidaklah Allah menurunkan penyakit melainkan Allah  pun menurunkan obatnya.
Akan mengetahui orang-orang yang mau mengetahuinya, dan tidak akan mengetahui orang-orang yang enggan mengetahuinya.

Di antara obat penyakit futur adalah:

1. Memperbaharui keimanan. Yaitu dengan mentauhidkan Allah dan memohon kepada-Nya agar ditambah keimanan, serta memperbanyak ibadah, menjaga shalat wajib yang lima waktu dengan berjamaah di masjid, mengerjakan shalat-shalat sunnah rawatib, melakukan shalat tahajjud dan witir. Begitu juga dengan bersedekah, silaturahmi, berbakti kepada kedua orang tua, dan lain-lain dari amal-amal ketaatan.

2. Merasa selalu diawasi Allah ta'ala dan banyak berdzikir kepada-Nya

3. Ikhlas dan bertakwa kpd Allah dimanapun berada

4. Mensucikan hati (dari kotoran syirik, bid'ah dan kemaksiatan)

5. Menuntut ilmu, tekun menghadiri pelajaran, majelis taklim, muhadharah ilmiyyah dan dauroh-dauoroh syar'iyyah.

6. Mengatur waktu dan mengintrospeksi diri.

7. Mencari teman yang baik (shalih).

8. Memperbanyak mengingat kematian dan takut terhadap su'ul khatimah (akhir kehidupan yang jelek).

9. Sabar dan belajar untuk sabar.

10. Berdoa dan memohon pertolongan Allah

ﻭَﺍﻟﻠّﻪُ ﺃﻋﻠَﻢ ﺑِﺎﻟﺼَّﻮَﺍﺏ

Semoga اَللّهُ سبحانه وتعالى jauhkan kita dari Futur dan Allah selalu anugerahkan semangat dalam menegakkan tauhid ini
آمــين اَللّهُمَّ آمــين

بارك الله فيكم..

Amalan Sepuluh Awal Bulan Dzulhijjah / ONE DAY ONE HADIST

Selasa, 22 Agustus 2017

29 Dzulqo'dah 1438


عن إبن عباس رضي الله عنهما قال، أن النبي صلى الله عليه وسلم قال:
مَا الْعَمَلُ فِي أَيَّامِ الْعَشْرِ أَفْضَلُ مِنَ الْعَمَلِ فِيْ هَذِهِ، قَالُوا: وَلاَ الْجِهَادُ؟ فَقَالَ: وَلاَ الْجِهَادُ إِلاَّ رَجُلٌ خَرَجَ يُخَاطِرُ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ بِشَيْءٍ…

Dari ibnu Abbas rodhiallohu anhuma berkata, sesungguhnya rasulullah shallallahu alaihi wassalama bersabda:
“Tidak ada amalan yang lebih utama dari amalan di sepuluh hari pertama Dzulhijjah ini. Mereka bertanya, ‘Tidak juga jihad?’ Beliau menjawab, ‘Tidak juga jihad, kecuali seorang yang keluar menerjang bahaya dengan dirinya dan hartanya sehingga tidak kembali membawa sesuatu pun.’”HR. Al-Bukhari lihat Fat-hul Baari (II/45)

Pelajaran yang terdapat dalam hadits:

1- Keistimewaan bulan Dzulhijjah karena ia menjadi tempat berkumpulnya ibadah-ibadah induk, yaitu shalat, puasa, shadaqah dan haji. Hal ini tidak ada di bulan lainnya.

2- Dalam Sepuluh Hari Pertama Bulan Dzulhijjah Terdapat Amalan Berikut Ini.

1. Haji dan umrah. Keduanya termasuk amalan terbaik yang dapat mendekatkan seorang hamba kepada Rabb-nya.

2. Puasa sembilan hari pertama dan khususnya hari kesembilan yang termasuk amalan-amalan terbaik. Cukuplah dalam hal ini sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِي بَعْدَهُ

“Puasa hari ‘Arafah yang mengharapkan pahala dari Allah dapat menghapus dosa-dosa satu tahun yang lalu dan satu tahun yang akan datang.”HR. Muslim, lihat Shahiih Muslim (II/818-819).

3. Takbir dan dzikir di hari-hari ini diijabahi (dikabulkan) berdasarkan firman Allah:

وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ

“Dan supaya mereka menyebut Nama Allah pada hari yang telah ditentukan” [Al Hajj/22: 28]

4. Disyari’atkan pada hari ini menyembelih kurban dari hari raya dan hari Tasyriq. Ini adalah sunnah Bapak kita, Ibrahim ketika Allah mengganti anaknya, Isma’il dengan hewan sembelihan yang besar dan juga Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menyembelih dua kambing gemuk lagi bertanduk untuk diri dan umatnya.

5. Sebagaimana juga disyari’atkan pada hari raya kepada seorang muslim untuk bersemangat melaksanakan shalat, mendengarkan khutbah dan memanfaatkannya untuk mengenal hukum-hukum kurban dan yang berhubungan dengannya.

6. Disyari’atkan juga pada hari-hari ini dan hari-hari lainnya untuk memperbanyak amalan sunnah, berupa shalat, membaca al-Qur-an, shadaqah, memperbaharui taubat dan meninggalkan dosa dan kemaksiatan, baik yang kecil maupun yang besar.

Tema hadist yang berkaitan dengan Al-Quran:

1- Dalil yang menunjukkan keutamaan 10 hari pertama Dzulhijah adalah firman Allah Ta’ala,

وَلَيَالٍ عَشْرٍ

“Dan demi malam yang sepuluh.” (QS. Al Fajr: 2).

2- Disunnah membaca tahmid, takbir, tahlil dan tasbih di sepuluh hari pertama bulan dzulhijjah.

ﻟﻴﺸﻬﺪﻭﺍ ﻣﻨﺎﻓﻊ ﻟﻬﻢ ﻭﻳﺬﻛﺮﻭﺍ ﺍﺳﻢ
ﺍﻟﻠﻪ ﻓﻲ ﺃﻳﺎﻡ ﻣﻌﻠﻮﻣﺎﺕ ﻋﻠﻰ ﻣﺎ ﺭﺯﻗﻬﻢ ﻣﻦ ﺑﻬﻴﻤﺔ
ﺍﻷﻧﻌﺎﻡ ( ﺍﻟﺤﺞ. 28/

“Agar mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan agar mereka menyebut nama Allah pada beberapa hari yang telah ditentukan atas rezeki yang Dia berikan kepada mereka berupa hewan ternak.” (QS. Al Hajj: 28).Lr

Mengingatkan besuk sudah masuk 1 Dzulhijjah 1438. Selamat beribadah!

Larangan Menyalurkan Fitrah Cinta dengan Pacaran / ONE DAY ONE HADIST

Ahad, 20 Agustus 2017

27 Dzulqo'dah 1438


عن إبن عباس رضي الله عنهما قال، قال رسول الله صلى الله عليه:
لاَ يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إِلاَّ مَعَ ذِى مَحْرَمٍ

“Janganlah seorang laki-laki berduaan dengan seorang wanita kecuali jika bersama mahromnya.” (HR. Bukhari, no. 5233)

Pelajaran yang terdapat dalam hadits:

1- Larangan berdua-duaan antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahram dan belum resmi menikah.

2- Para ulama telah sepakat bahwa perbuatan seperti itu haram hukumnya, tanpa pengecualian. Dalam hadist lain di tambahkan bahwa kalau laki-laki dan perempuan yang bukan mahram berkumpul, maka yang ketiganya adalah setan, sehingga sangat mungkin mereka melakukan hal-hal yang di larang oleh syara’.

3- Larangan yang di maksud tersebut sebagai batasan dalam pergaulan antara lawan jenis demi menghindari fitnah. Oleh karena itu, larangan islam, tidak semata-mata untuk  membatasi pergaulan, tetapi lebih dari itu yaitu, untuk menyelamatkan peradaban manusia. Berduaan dengan lawan jenis merupakan salah satu langkah awal terhadap terjadinya fitnah. Dengan demikian, larangan perbuatan tersebut, sebenarnya sebagai langkah preventif agar tidak melanggar norma-norma hukum yang telah di tetapkan oleh agama.

4- Pada masa modern seperti sekarang ini adanya interaksi antara dua gender tidak dapat terelakkan baik dalam dunia pendidikan, pekerjaan ataupun yang lainnya. Akan tetapi, orang-orang islam sudah banyak yang terkontaminasi oleh budaya luar ( negatif ) dimana mereka sudah tidak memperhatikan lagi nilai-nilai syariat islam itu sendiri seperti hubungan pra nikah yang begitu bebas tampa batas, seperti halnya: Pacaran, bersalaman/ bersentuhan dengan yang bukan Mahromnya serta memandang yang bukan Mahrom dan lain sebagainya.

Tema hadist yang berkaitan dengan Al-Quran:

1- Pergaulan bebas antara laki-laki dan perempuan, bersuka-sukaan mencapai apa yang disenangi mereka.
Pacaran berarti dengan berkencan atau berpasangan untuk berzina.
jelas dilarang oleh agama Islam,

وَلاَ تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلاً . [الإسراء (17): 32]

Artinya: “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.” [QS. al-Isra’ (17): 32]

2- Allah Memerintahkan kepada Wanita untuk Menutup Auratnya

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

“Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu’min: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Al Ahzab [33] : 59)

وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْ نَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا

“Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya.” (QS. An Nuur [24] : 31).

Tidak Pernah Bosan Beristghfar / ONE DAY ONE HADIST

Senin, 21 Agustus 2017

28 Dzulqo'dah 1438

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: سَمعتُ رَسُول اللهِ صلى الله عليه وسلم يقولُ: ((وَاللهِ إنِّي لأَسْتَغْفِرُ اللهَ وَأتُوبُ إلَيْهِ فِي اليَومِ أَكْثَرَ مِنْ سَبْعِينَ مَرَّةً)). رواه البخاري.

Dari Abu Ghurairota rodhiallohu anhu berkata: Aku mendengar Rasulullah  bersabda:
“Demi Allah. Sungguh aku selalu beristighfar dan bertaubat kepada Allah dalam sehari lebih dari 70 kali.” (HR. Bukhari)

Pelajaran yang terdapat dalam hadits:

1- Tidak ada dalam satu hadits shohih pun yang menceritakan tentang balasan amalan kepada selain beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menyatakan bahwa dosanya yang telah lalu dan akan datang akan diampuni. Inilah yang menunjukkan kemuliaan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam segala perkara ketaatan, kebaikan dan keistiqomahan yang tidak didapati oleh manusia selain beliau, baik dari orang yang terdahulu maupun orang yang belakangan. Beliaulah manusia yang paling sempurna secara mutlak dan beliaulah pemimpin (sayid) seluruh manusia di dunia dan akhirat.”

2- Walaupun dosa-dosa beliau telah diampuni, namun beliau shallalahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling banyak beristigfar di setiap waktu. Para sahabat telah menghitung dalam setiap majelisnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terlihat paling banyak beristigfar.

3- Saudaraku … Jika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam saja yang sudah dijamin dosanya yang telah lalu dan akan datang akan diampuni, bagaimana lagi dengan kita yang tidak dijamin seperti itu[?] Sungguh, kita sebenarnya yang lebih pantas untuk bertaubat dan beristighfar setiap saat karena dosa kita yang begitu banyak dan tidak pernah bosan-bosannya kita lakukan.

Tema hadist yang berkaitan dengan Al-Quran:

1- Rasul dan suri tauladan kita, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling banyak beristigfar dan bertaubat padahal beliau adalah orang yang telah diampuni dosa yang telah lalu dan akan datang.

إِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُبِينًا،لِيَغْفِرَ لَكَ اللَّهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ وَيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكَ وَيَهْدِيَكَ صِرَاطًا مُسْتَقِيمًا

“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata , supaya Allah memberi ampunan kepadamu terhadap dosamu yang telah lalu dan yang akan datang serta menyempurnakan ni’mat-Nya atasmu dan memimpin kamu kepada jalan yang lurus,” (QS. Al Fath : 1-2)

2- Allâh Azza wa Jalla berfirman memberitakan sifat-sifat orang-orang yang bertakwa :

الَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا إِنَّنَا آمَنَّا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ،الصَّابِرِينَ وَالصَّادِقِينَ وَالْقَانِتِينَ وَالْمُنْفِقِينَ وَالْمُسْتَغْفِرِينَ بِالْأَسْحَارِ

(Yaitu) orang-orang yang berdoa : “Ya Rabb Kami, sesungguhnya kami telah beriman, maka ampunilah segala dosa kami dan peliharalah kami dari siksa neraka,” (Yaitu) orang-orang yang sabar, yang benar, yang tetap taat, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allâh), dan yang memohon ampun di waktu sahur [sahur: waktu sebelum fajar menyingsing mendekati shubuh]. [Ali ‘Imrân/3: 16-17]

Dalam ayat lain, Allâh Azza wa Jalla berfirman :

إِنَّهُمْ كَانُوا قَبْلَ ذَٰلِكَ مُحْسِنِينَ﴿١٦﴾كَانُوا قَلِيلًا مِنَ اللَّيْلِ مَا يَهْجَعُونَ﴿١٧﴾وَبِالْأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ﴿١٨﴾وَفِي أَمْوَالِهِمْ حَقٌّ لِلسَّائِلِ وَالْمَحْرُومِ

Sesungguhnya mereka (orang-orang yang bertakwa) sebelum itu di dunia adalah orang-orang yang berbuat kebaikan. Dahulu di dunia mereka sedikit sekali tidur diwaktu malam. Dan selalu memohon ampunan di waktu sahur (akhir malam sebelum fajar). Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian [maksudnya ialah orang miskin yang tidak meminta-minta]. [adz-Dzâriyât/51: 16-19

UJUB MENGHANCURKAN AMAL

Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:

إذا فتح الله عليك في باب قيام الليل؛ فلا تنظر للنائمين نظرة ازدراء.

"Jika Allah membukakan untukmu pintu shalat malam, janganlah engkau melihat orang-orang yang tidur dengan pandangan merendahkan!

وإذا فتح الله عليك في باب الصيام؛ فلا تنظر للمفطرين نظرة ازدراء.

Jika Allah membukakan untukmu pintu puasa, janganlah engkau melihat orang-orang yang tidak berpuasa dengan pandangan merendahkan!

وإذا فتح الله عليك في باب الجهاد؛ فلا تنظر للقاعدين نظرة ازدراء.

Jika Allah membukakan untukmu pintu jihad, janganlah engkau melihat orang-orang yang tidak berjihad dengan pandangan merendahkan!

فرب نائم ومفطر وقاعد؛ أقرب إلى الله منك.

Bisa jadi orang yang tidur, orang yang tidak berpuasa, dan orang yang tidak berjihad, dia lebih dekat dengan Allah dibandingkan dirimu.

وإنك أن تبيت نائما وتصبح نادما خير من أن تبيت قائما وتصبح مُعجَباً، فإن المعجب لا يصعد له عمل.

Dan sungguh engkau menghabiskan malam dengan tidur dan bangun pagi dalam keadaan menyesal, itu lebih baik dibandingkan engkau menghabiskan malam dengan shalat, namun di pagi hari engkau merasa ujub. Sesungguhnya orang yang ujub amalnya tidak akan ada yang naik (diterima oleh Allah)."

(Madaarijus Saalikiin, 1/177).

Sabtu, 19 Agustus 2017

APAKAH ENGKAU TERMASUK ORANG YANG SELALU TEROBSESI UNTUK…

Bismillah

Akhi Ukhti…

Apakah engkau termasuk orang yang selalu terobsesi untuk mengganti barang yang kau miliki?

ingin ganti mobil yang lebih mewah dan baru

ingin ganti gadjet keluaran terbaru

ingin ganti tas dengan merk dan model yang lebih wah

ingin ganti motor yang lebih keren dan menawan

Atau apa saja…

Kalau yang mendorong dirimu itu karena faktor kebutuhan mungkin sesuatu yang oke-oke saja

Namun terkadang, engkau melakukan bukan karena kebutuhan
Tapi karena sesuatu yang ada di hatimu

Karena fulanah ganti mobil, engkau juga ingin
Karena fulanah pakai tas yang lebih mahal dari milikmu
Karena fulan memiliki gadjet teranyar
Karena Fulan membeli motor baru sedang motormu adalah bekas

Kalau yang menjadi pembimbing dalam belanja adalah nafsumu maka hidupmu akan susah
Engkau akan dibikin lelah olehnya, karena nafsu tidak pernah puas
Engkau selalu akan melihat yang lebih dari dirimu
Engkau akan terus memeras keringatmu dan menghabiskan waktumu bekerja keras hanya untuk menuruti nafsumu

Ada satu cara yang membuat hidupmu nyaman, bahkan engkau akan merasa lebih kaya dari semua orang, apa itu?

Sa’ad bin Abi Waqqash pernah berpesan pada anaknya

“يا بني، إذا طلبت الغنى فاطلبه بالقناعة؛ فإنها مال لا ينفد”

“Wahai ananda kalau engkau mencari kekayaan, maka carilah dengan Qana’ah, sesungguhnya ia adalah harta yang tidak ada habisnya” (Uyunul Akhbar 3/207)

Qana’ah ada Hati yang senantiasa menerima dan ridha atas pemberian Allah
Bila engkau memiliki hati yang Qana’ah sesungguhnya engkau dengan raja terkaya di muka bumi ini adalah sama

Syafiq Riza Basalamah, حفظه الله تعالى

Memakai Cincin di Jari Tengah dan Telunjukِ / ONE DAY ONE HADIST

Sabtu, 19 Agustus 2017

26 Dzulqo'dah 1438


قَالَ عَلِىٌّ نَهَانِى رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم أَنْ أَتَخَتَّمَ فِى إِصْبَعِى هَذِهِ أَوْ هَذِهِ. قَالَ فَأَوْمَأَ إِلَى الْوُسْطَى وَالَّتِى تَلِيهَا.

Berkata Ali radhiyallahu’anhu: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang padaku memakai cincin pada jari ini atau jari ini.” Ia berisyarat pada jari tengah dan jari setelahnya. (HR. Muslim no. 2095).

Pelajaran yang terdapat dalam hadits:

1- Kita sebagai umat islam sudah sepatutnya untuk senantiasa mengikuti sunah Rosulullah dan jika kita bertanya seputar cincin dan memakai cincin di jari tengah atau telunjuk, bagaimana hukumnya dalam islam maka kita harus melihat kebelakang apakah Rosulullah pernah memakai atau membolehkan untuk memakai cincin ?

2- Imam Nawawi menyebutkan dalam riwayat lain selain Muslim disebutkan bahwa yang dimaksud adalah jari telunjuk dan jari tengah.

3- Imam Nawawi menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan larangan memakai cincin di jari telunjuk dan jari tengah bagi laki-laki adalah makruh tanzih  (bermakna: makruh, bukan haram). Lihat Syarh Shahih Muslim, 14: 65.

4- Imam Nawawi menyatakan bahwa para ulama sepakat bolehnya memakai cincin di jari tangan kanan atau pun di jari tangan kiri. Tidak ada disebut makruh di salah satu dari kedua tangan tersebut. Para ulama cuma berselisih pendapat saja manakah di antara keduanya yang afdhal. Kebanyakan salaf memakainya di jari tangan kanan, kebanyakannya lagi di jari tangan kiri. Imam Malik sendiri menganjurkan memakai di jari tangan kiri, beliau memakruhkan tangan kanan. Sedangkan ulama Syafi’iyah yang shahih, jari tangan kanan lebih afdhal karena tujuannya adalah untuk berhias diri. Tangan kanan ketika itu lebih mulia dan lebih tepat untuk berhias diri dan juga sebagai bentuk pemuliaan. Lihat Syarh Shahih Muslim, 14: 66.

5- Kesimpulannya, jari tangan yang terbaik untuk memakai cincin bagi laki-laki adalah jari kelingking pada tangan kiri. Adapun jari yang terlarang (makruh) dipakaikan cincin adalah jari tengah dan jari telunjuk. Sedangkan jari manis, masih bisa dikenakan. Adapun untuk wanita, bebas memakai cincin di jari mana saja. Wallahu a’lam.

Tema yang berkaitan dengan Al-Quran:

-Allah Azza Wa Jaal berfirman, menyanggah pendapat orang yang mengharamkan sesuatu dari makanan atau minuman atau pakaian perhiasan menurut kehendak hatinya sendiri tanpa ada dasar syariat dari Allah.

قُلْ مَنْ حَرَّمَ زِينَةَ اللَّهِ الَّتِي أَخْرَجَ لِعِبَادِهِ وَالطَّيِّبَاتِ مِنَ الرِّزْقِ قُلْ هِيَ لِلَّذِينَ آمَنُوا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا خَالِصَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ كَذَلِكَ نُفَصِّلُ الآيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ

Katakanlah, "Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rezeki yang baik?” Katakanlah, "Semuanya itu (disediakan) bagi orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, khusus (untuk mereka saja) di hari kiamat.” Demikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi orang-orang yang mengetahui.(Al-A'rof:32).

E-mail Newsletter

Sign up now to receive breaking news and to hear what's new with us.

Recent Articles

© 2014 Kidung Ilmu. WP themonic converted by Bloggertheme9. Powered by Blogger.
TOP