Tampilkan postingan dengan label Militer. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Militer. Tampilkan semua postingan

Minggu, 08 Maret 2015

Jangan Terlalu Lama Berpikir, Hidangan Malam Keburu Dingin (SUKHOI SU 35 S)


Sukhoi SU-35
Sukhoi SU-35
Jakarta – Kepala Staf Angkatan Udara (Kasau), Marsekal Agus Supriatna mengatakan tengah mengincar beberapa alutsista baru untuk mengganti pesawat F-5 Tiger buatan Amerika Serikat yang kian uzur. Dari sekian banyak alutsista, salah satu yang memikat hatinya jet tempur asal Rusia, Sukhoi Su-35.
Terkait dengan rencana tersebut, Duta Besar Rusia untuk Indonesia, Mikhail Y. Galuzin, membenarkan sudah dihubungi perwakilan Indonesia mengenai rencana peremejaan alat tempur TNI AU. Ditemui di kediamannya pada Kamis, 5 Maret 2015, Galuzin menyebut alutsista yang akan dibeli Indonesia yakni Sukhoi Su-35.
“Kami berharap kesepakatan pembelian Sukhoi Su-35 bisa terjadi,” ungkap Galuzin.
Menurut diplomat yang pernah ditempatkan di Jepang itu, ia ingin segera bertemu dengan Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu, guna merealisasikan pembelian alutsista tersebut. Bahkan, dia mengaku akan sangat terbuka jika Indonesia ingin membahas isu-isu yang lebih teknis.
“Kami terbuka untuk berdiskusi bersama rekan kami dari Indonesia (mengenai rencana pembelian jet tempur ini). Kami siap untuk alih teknologi,” ujar Galuzin.
Ketika dikonfirmasi oleh VIVA.co.id ke Kementerian Pertahanan mengenai rencana pembelian jet tempur Su-35, juru bicara Brigadir Jenderal, Djundan Eko, tidak menampik kemungkinan itu.
Djundan menyebut jet tempur Su-35 memang masuk ke dalam daftar belanja untuk anggaran tahun 2015-2019. Kendati begitu, dia menjelaskan bahwa pembelian alutsista harus melalui kajian terlebih dahulu.
“Sebelum TNI AU memutuskan untuk membeli suatu alutsista, harus melalui kajian dulu. Baru setelah itu diajukan kepada kami,” ujar Djundan.
Saat ini, dia menyebut belum menerima kajian atau pengajuan daftar alutsista.
“Mungkin masih dalam proses. Tetapi, kami belum membicarakan mengenai hal itu di Kemhan,” imbuh dia.
TNI AU mengincar jet tempur Su-35 untuk dimasukkan ke dalam anggaran 2015. Jet tersebut masuk ke dalam daftar yang dia incar karena dapat memenuhi kebutuhan alutsita TNI AU dan lebih mudah dioperasikan.
Satu unit Su-35 diprediksi bernilai USD$65 juta atau setara Rp844 miliar. Nominal itu lebih murah dibandingkan jet tempur buatan Amerika Serikat, F-16 yang harga jualnya per unit mencapai USD$165 juta atau Rp2,1 triliun.
Su-35 merupakan model terbaru dari Su-27M Flanker, di mana terdapat peningkatan terhadap kemampuan superioritas tempur udara dan didesain agar bisa menembak berbagai target dengan menggunakan peluru kendali maupun non-kendali.
Menurut laman Russia Beyond The Headlines (RBTH), dalam 20 tahun terakhir, Indonesia telah membeli beberapa pesawat tempur multifungsi dari Rusia, yakni Su-27 dan Su-30, 10 helikopter Mi-35, 14 helikopter Mi-17, 48 kendaraan lapis baja BTR-80A dan 9.000 senapan Kalashnikov Ak-102. (Viva.co.id)

Rusia Siapkan Transfer Teknologi untuk Pembelian SU-35

Sukhoi SU-35
Sukhoi SU-35
Rusia menegaskan kesiapannya untuk mematuhi skema transfer-of-teknologi skema yang dibutuhkan oleh Indonesia jika memilih untuk membeli pesawat tempur jet Sukhoi Su-35 buatan Rusia untuk memodernisasi angkatan udara.
“Saya telah berbicara dengan Menteri Pertahanan Indonesia Ryamizard Ryacudu beberapa bulan yang lalu. Kami sepenuhnya menyadari peraturan pemerintah Indonesia pada transfer-of-teknologi dan skema offset industri,” ujar Duta Besar Rusia untuk Indonesia Mikhail Galuzin kepada wartawan di kediamannya di Jakarta Selatan, 5 Maret 2015.
“Kami siap dan terbuka untuk diskusi lebih lanjut dengan mitra Indonesia untuk kelayakan pengadaan Su-35,” tambah diplomat 54 tahun tersebut.
Pernyataan ini muncul di tengah persaingan ketat dari produsen jet tempur top dunia untuk memasok pengganti F-5E/F Tiger Angkatan Udara Indonesia (TNI-AU) yang menua.
Pekan lalu, Duta Besar Spanyol untuk Indonesia Francisco José Viqueira Niel mengklaim bahwa jet tempur Eurofighter Typhoon adalah pilihan terbaik bagi Indonesia untuk memodernisasi angkatan udara dan datang dengan kemampuan teknis serta transfer teknologi.
Konsorsium Eurofighter melibatkan empat negara, yaitu Spanyol, Jerman, Italia dan Inggris.
Pesaing lain yang kuat adalah jet tempur bermesin tunggal Swedia SAAB Gripen; Flanker dan Typhoon keduanya jet tempur bermesin ganda.
Galuzin berbicara tentang teknologi pesawat militer Rusia, dan mengklaim SU-35 adalah yang terbaik di antara yang ada di dunia.
Tahun ini, ia menambahkan, Rusia akan menjadi tuan rumah tiga event militer internasional untuk menampilkan teknologi militer canggih dan kemampuan Rusia.
Pada bulan Juni, Kementerian Pertahanan Rusia akan menjadi tuan rumah “ARMY-2015″, sebuah forum teknis internasional militer. Sekitar satu bulan kemudian, St. Petersburg akan menggelar International Maritime Defence Show, 2015.
“Pada bulan Agustus, MAKS 2015, atau International Aviation and Space Salon ke 12 akan digelar di Moskow,” kata Galuzin.
Saat ini, TNI AU mengoperasikan armada campuran single-seater Su-27s dan double-seater Su-30s di skadron 11 yang berbasis di Sultan Hasanuddin Air Force Base di Makassar, Sulawesi Selatan.
Pada bulan Januari 2015, juru bicara Kementerian Pertahanan Indonesia Kolonel Djundan Eko Bintoro mengatakan bahwa, selama pertemuan Galuzin dengan Ryamizard, wakil dari indonesia juga ditawarkan kapal selam Kilo jenis 636 class dan helikopter Mi-17 untuk meningkatkan sistem pertahanan maritim Indonesia. (thejakartapost.com).

Pindad Segera Pamerkan Panser Amfibi

Prototype Panser Anoa Amfibi Pindad (Photo: koran-sindo.com)
Prototype Panser Anoa Amfibi Pindad (Photo: koran-sindo.com)
Bandung – Pindad menargetkan dapat memamerkan panser amfibi yang mereka kembangkan, pada HUT TNI, Oktober mendatang. Pengembangkan panser amfibi itu sebagai bagian dari upaya menjawab kebutuhan alat utama sistem persenjataan (alutsista) TNI.
Dirut Pindad Silmy Karim mengungkapkan hal itu ketika menerima kunjungan Danpussenif Mayjen TNI Hinsa Siburian di Bandung, Kamis (5/3). ”Diharapkan, sertifikasi panser selesai Juni mendatang. Jadi pada HUT TNI nanti sudah bisa ambil bagian dalam parade,” jelasnya.
Menurut dia, pihaknya terus menyempurnakan varian terbaru pansernya, terutama kemampuan amfibi, pertimbangan kebutuhan, doktrin, kecepatan, keselamatan, dan pengoperasian. Panser tetap berfungsi sebagai angkut personel. Hanya saja, panser bisa menembus rawa, sungai, dan danau sehingga memudahkan pergerakan pasukan.
Manuver
Dalam atraksi yang diperlihatkan kemarin, dalam posisi mengambang, purwarupa panser amfibi itu lincah bergerak ke sana-mari. Panser sanggup maju dan mundur dan berkelok tajam. Panser memiliki water propeller sebagai penggerak di air.

Hinsa mengapresiasi produk Pindad tersebut. Secara implisit, perwira tinggi bintang dua tersebut bahkan menyatakan tertarik dengan performa panser amfibi.
”Khusus infanteri, yang ditonjolkan adalah manuver dan tembakan. Infanteri dasarnya jalan kaki. Selama ini, paser Anoa hanya di darat. Dengan panser amfibi, daya gerak dan manuvernya luar biasa,” tandasnya. (suaramerdeka.com)

Jumat, 06 Maret 2015

Dubes Rusia Undang Menhan Bahas Pembelian Sukhoi SU-35

Sukhoi SU-35
Sukhoi SU-35
Jakarta – Duta Besar Rusia untuk Indonesia Mikhail Galuzin, menyatakan telah dihubungi perwakilan Indonesia soal rencana peremajaan alat tempur TNI AU. Dia mengatakan alutsista yang hendak dibeli adalah jet tempur Sukhoi Su-35.
“Memang sudah ada rencana dari pemerintah Indonesia untuk menambah sekaligus meremajakan alat tempurnya. Kami berharap kesepakatan pembelian Sukhoi Su-35 bisa terjadi,” kata Galuzin di kediamannya, Jakarta, Kamis (5/3).
Galuzin berharap bisa membicarakan realisasi pembelian alutsista udara tersebut langsung dengan Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu. Rusia akan sangat terbuka bila Indonesia ingin membahas isu-isu lebih teknis.
“Kami terbuka, sangat terbuka jika Menteri Ryamizard Ryacudu mendiskusikan hal tersebut dengan kami,” lanjutnya.
Sebelumnya, Panglima TNI Jenderal Moeldoko menyatakan tertarik untuk membeli alutsista milik Rusia. Selain Sukhoi, TNI juga tertarik membeli armada jet tempur JAS-39 Gripen dari Swedia atau F16 buatan Amerika Serikat.
Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara (TNI AU) tahun lalu mengajukan permintaan untuk mengganti pesawat F-5 Tiger buatan Amerika Serikat yang semakin uzur.
Informasi rencana pembelian Su-35 oleh TNI AU ternyata menjadi sorotan dunia. Sejumlah situs persenjataan dunia ikut menyoroti soal pembelian jet tempur canggih ini.
Situs airforce-technology.com dan defenseworld.net, spesialis membahas khusus kekuatan tempur udara, mengulas gagasan Indonesia membeli peralatan canggih buatan Rusia itu.
Kepala Staf Angkatan Udara (Kasau), Agus Supriatna dikutip mengincar pesawat Su-35 untuk anggaran 2015. Menurut Agus, produsen jet Rusia masuk dalam daftar incaran karena dapat memenuhi kebutuhan alutsista TNI Angkatan Udara, serta lebih mudah dioperasikan. Satu unit Su-35 bernilai USD 65 juta (setara Rp 844 miliar). Lebih murah dari F-16 buatan AS yang harga jual per unit mencapai USD 165 juta (setara Rp 2,1 triliun).
“Semua bisa dipesan, tapi kami sebagai operator ingin pesawat baru,” ujarnya. Sukhoi Su-35 merupakan model terbaru dari Su-27M Flanker, di mana terdapat peningkatan terhadap kemampuan superioritas tempur udara, dan didesain agar bisa menembak berbagai target dengan menggunakan peluru kendali maupun non-kendali. (Merdeka.com).

Minggu, 01 Maret 2015

Mengenal Panser Badak Pindad

Panser Badak Pindad (photo: Pindad).
Panser Badak Pindad (photo: Pindad).
Setelah melewati masa pengembangan yang panjang, Pindad akhirnya melansir panser kanon yang kemudian dinamai Badak (Rhinoceros) oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla dalam pameran Indo Defense 2014. Dikatakan panjang, karena niatan Pindad untuk membuat panser kanon sesungguhnya sudah dimulai sejak 2009, dengan purwarupa pertama selesai pada 2011 dan dipaparkan oleh Pindad dalam sarasehan mengenai panser kanon bersama Pussenkav.
Ketika itu, purwarupa pertama masih menggunakan kubah milik tank Alvis Scorpion dengan meriam 90mm Low Pressure Cockerill Mk III. Penulis sendiri sempat ngoprek purwarupa pertama ini, termasuk mencoba duduk di dalam kursi komandan dan juru tembak.
Tahun demi tahun berlalu, dan Pindad melanjutkan ke purwarupa kedua, diberi nama Bee. Masih menggunakan kubah Alvis, Bee dimodifikasi pada sistem otomotif terutama suspensi, dengan penjarangan roda ketiga dari roda pertama dan kedua untuk memperbaiki titik beratnya. Sementara itu, TNI AD malah merealisasikan pembelian ranpur Doosan Tarantula, dengan sistem senjata utama kanon 90mm Mk III dalam kubah CSE90LP, Dengan spek setara panser kanon buatan Pindad, sepertinya produk dalam negeri kalah skor 1-0 dalam pertempuran panjang merebut kemandirian bangsa dalam bidang alutsista.
Pindad hanya kebagian transfer of technology berupa integrasi kubah ke dalam hull Tarantula. Pada tahun 2014, akhirnya Pindad comeback dengan meluncurkan panser kanon dalam speknya yang definitif. Dengan merubah beberapa tampilan dari purwarupanya yang terakhir, Pindad membuat beberapa kemajuan.
Pertama, Pindad akhirnya memperoleh kepastian pasokan baja armor grade dari pabrik baja dalam negeri Posco-Krakatau Steel melalui MoU yang ditandatangani pelaksana tugas Dirut PT Pindad dan Dirut Posco-Krakatau Steel pada pembukaan Indo Defense 201. Baja kualitas militer ini menjadi krusial karena Pindad berulangkali masih harus mengimpor baja dari luar negeri dalam proses yang tidak ekonomis karena harus membayar pajak bea masuk atas lembaran baja tersebut, belum lagi ditilik dari segi kemandirian pembuatan alutsista.
Yang kedua, Pindad juga dijanjikan akan melakukan perakitan sistem kubah CSE90LP, sehingga nama kubah ini kelak menjadi CSE90LP- P untuk Pindad. Yang masih menjadi pekerjaan rumah besar bagi Pindad dan Kementrian Pertahanan adalah membangun industri mesin yang aplikatif untuk kendaraan besar termasuk kendaraan militer, karena Indonesia sama sekali tidak memiliki dan bahkan masih sangat tergantung dengan impor. Begitu pula dengan industri sistem optik dan kendali penembakan untuk kendaraan darat.
Panser Badak Pindad (photo: Pindad).
Panser Badak Pindad (photo: Pindad).
Walaupun dari segi kemampuan kanon 90mm Low Pressure sudah termasuk ketinggalan jaman, tetapi pemakainya masih banyak, seperti tank Scorpion dan panser V150 kanon milik TNI AD, ataupun Sibmas dan Scorpion milik AD Diraja Malaysia, dan jangan lupa V300 milik AD Filipina.
Dengan anggaran militer pas-pasan dari negara penggunanya, diperkirakan masih akan ada pasar untuk sistem senjata ini setidaknya 15-20 tahun kedepan. Kanon 90mm Low Pressure Cockerill MkIII memiliki varian munisi yang cukup banyak, mulai dari HE, HEAT, dan bahkan APFSDS dengan rating penetrasi 100mm RHA pada kemiringan 60o pada jarak 1.000m, jadi jangan mengharapkannya atau bermimpi menjebol Main Battle Tank.
Untuk operasi anti gerilya menghadapi insurjen yang lari di balik rerimbunan pohon, bolehlah. Akurasinya juga oke punya, pengujian internal Kavaleri atas sistem senjata serupa di atas Tarantula mampu menghasilkan bullseye, berkat akurasi sistem laser rangefinder dalam memberikan pembacaan jarak.
Pindad sendiri telah mampu membuat sebagian munisi 90mm ini, jadi kesempatan dan peluang pasar untuk Pindad sebagai centre of excellence dari sistem senjata 90mm MkIII tersebut masih terbuka lebar.
Nah, kembali ke soal hull, Pindad meracik Badak sedikit berbeda dengan dua purwarupa pendahulunya. Bentuk glacis di sisi atas terlihat sangat melandai, untuk memberikan kemampuan menahan impak peluru dengan lebih baik, bahkan memaksanya memantul.
Pindad memberi jaminan bahwa Badak dengan kulitnya yang keras memenuhi standar NATO STANAG 4569 Level III, atau mampu menahan impak peluru 7,62x51mm AP (Armor Piercing) standar NATO dari jarak 30 meter. Seperti kebiasaan Pindad yang sebelumnya mendandani Anoa dengan lapisan applique tambahan, Badak juga bisa ditingkatkan perlindungannya, setidaknya mampu menahan impak peluru 14,5mm. Bentuk glacis atas yang melandai ini juga membantu memberikan sudut tunduk laras yang lebih besar, sehingga apabila Badak ada di atas perbukitan, meriam masih mampu menyasar sasaran di bawahnya.
Panser Badak Pindad (photo: Pindad).
Panser Badak Pindad (photo: Pindad).
Bentuk glacis yang melandai ekstrim ini juga membawa pengaruh pada posisi duduk pengemudi yang ditempatkan di sebelah kanan depan. Tidak menggunakan tutup palka biasa, pada Badak palka pengemudi dibuat tidak flush alias sedikit menonjol dari pelat atas kendaraan, untuk memberikan ruang pandang yang memadai. Tersedia tiga periskop panoramik untuk pengemudi, sesuatu yang cukup ‘wah’ untuk ranpur semacam ini yang biasanya hanya dilengkapi satu periskop prisma.
Tersedia kamera di sisi belakang yang terhubung ke display untuk pengemudi, membantu saat memundurkan kendaraan. Di sebelah kiri pengemudi terdapat mesin Diesel inline 6 silinder yang dilengkapi turbocharger, mampu menyemburkan daya sampai dengan 320hp. Dengan bobot kendaraan hanya pada kisaran 11 ton, power to weight rationya mencapai 29hp/ ton, tidak heran Badak bisa dipacu dengan sangat kencang sampai kecepatan 90km/ jam di jalanan aspal mulus dan rata. Di tengah kendaraan terpasang kubah CSE90LP, dimana (dari atas) komandan duduk di sebelah kiri, dan juru tembak duduk di sebelah kanan.
Komandan memiliki lima periskop prisma dan satu periskop besar hadap depan, sementara juru tembak memiliki empat periskop dan satu periskop bidik besar yang bisa dilengkapi dengan beragam sistem mulai dari kamera pandang malam, kamera termal, sampai dengan kamera infra merah. Meriam berulir 90mm ditemani oleh senapan mesin koaksial 7,62x51mm NATO di sebelah kiri untuk menyapu habis ancaman pasukan infantri.
Untuk fungsi anti infantri/ helikopter, disediakan pintle mount pada sisi komandan untuk memasang senapan mesin sedang seperti FN MAG, MG3, atau bila diperlukan, opsi dudukan senapan mesin berat seperti CIS 50MG.
Pemilihan Canon Panser Badak 
Sebagai ranpur kelas 10 ton, Pindad sudah dapat diacungi jempol mengingat hasil kerja keras mereka akhirnya terwujud dalam kendaraan produksi final.

Melihat kemampuannya, Badak boleh dikatakan setara atau bahkan melebihi kemampuan 22 unit Tarantula yang kadung dibeli oleh TNI AD, menandakan bahwa untuk kelas kendaraan panser kanon, Indonesia sebagian besar sudah mampu mandiri dan tidak tergantung dari Negara luar lagi. Yang patut disayangkan adalah sistem senjata yang dipilih.
CMI sebagai pemasok memiliki banyak varian kubah dan meriam, dan boleh dikatakan CSE90LP kelasnya ada di bawah Badak. Meriam 90mm Low Pressure sewajarnya merupakan senjata bagi ranpur kelas 4×4 seperti V150 (versi modernnya saat ini dikenal sebagai Textron COMMANDO Select), bukan 6×6. Pindad harus berani melirik meriam 90mm medium pressure seperti yang terpasang pada kubah CMI CT-CV 90MP/ LCTS 90MP.
Meriam yang merupakan turunan dari Cockerill Mk8 KEnerga ini mampu menggasak tank sekelas T-72 (generasi awal) dan M60. Apalagi CMI sudah menyebut bahwa LCTS 90MP mampu digotong oleh ranpur kelas 10 ton, dan sudah dibuktikan pada SIBMAS 6×6.
image
Panser Badak Pindad (photo: Pindad)
TNI sebagai user juga sudah harus membuka mata dan melakukan update atas pengetahuan yang mereka miliki, jangan melulu terpaku pada kanon 90mm low pressure yang sudah usang dan kalah dari kanon tembak cepat 25/30/40mm. Ayo Pindad, tunggu apa lagi?.
Panser Badak Pindad 6×6 :
Dimensi (pxlxt) : 6×2,5×2,9m
Wheelbase : 1,5m
Bobot : 11 ton
Power to weight ratio : 22,85-29hp/ ton
Ground clearance : 400mm
Max speed : 90km/ jam
Sudut tanjakan : 60o
Sudut kemiringan : 30o
Arung air : 1m
Halangan parit : max. 0,75m
Radius putar : 10m
Jarak tempuh : 600km
Mesin : Diesel inline turbocharger intercooler 6 silinder daya 320hp dengan transmisi otomatis 6 maju dan 1 mundur.
Sistem Senjata :
Kubah CSE 90LP dengan kanon 90mm rifled dan koaksial 7,62mm ? Pintle mount 7,62mm
Smoke discharger 66mm

Pindad unveils new assault rifle prototype SSx 7.62mm

At IndoDefence 2014 in Jakarta, Indonesia-based company Pindad is increasing its assault rifles range by officially showing for the first time a new SS variant, the SSx 7.62mm. This rifle is part of PT Pindad focus and long effort to develop its own weapon with a bigger caliber to fulfil new challenges as required by its users.
   
At IndoDefence 2014 in Jakarta, India-based company Pindad is increasing its assault rifles range by officially showing for the first time a new SS variant, the SSx 7.62mm. This rifle is part of PT Pindad focus and long effort to develop its own weapon with a bigger caliber to fulfil new challenges as required by its users.Pindad SSx 7.62 mm assault rifle prototype at IndoDefence 2014
   
PT Pindad has initally successfully produced its series of assault rifles e.g. SS1 and SS2 with 5.56 mm caliber. This new prototype is a commitment of PT Pindad management to support both of its domestic end-users within Indonesian National Armed Forces as well as global customer demand.
The SSx is a 7.62x51 mm caliber gun, of which barrel measures 510 mm. It can be used with three firing modes: single shot, full automatic and safe modes. The SSx uses MU 2 Tj ammunition, allowing an effective range of 950m. The future Pindad's 7.62 mm assault rifle has optical sight and flip up sight, and can be used with a tripod.

Frigate SIGMA 10514, Seperti Apa Barangnya ?

SIGMA 10514 Guided Missile Frigate (photo DSNS)
SIGMA 10514 Guided Missile Frigate (photo DSNS)
Thales Defence yang bermarkas di Perancis resmi ditunjuk oleh Damen Schelde Naval Shipbuilding Belanda untuk meng-install a full mission systems suite, untuk dua kapal Perusak Kawal Rudal (PKR) Angkatan Laut Indonesia, setelah menandatangani kontrak pada November 2013. Kapal PKR yang dimaksud adalah Frigate SIGMA 10514 Guided Missile.
Thales akan memasok sejumlah sistem ke dalam frigate Sigma tersebut, antara lain: Sistem Manajemen Tempur TACTICOS, Radar surveillance SMART-S Mk2, Sistem Kontrol Penembakan STIR 1.2 Mk2 EO, Sonar Kingklip, Datalink LINK-Y, serta komunikasi angkatan laut dan sistem navigasinya. Pengiriman pertama modul-modul tersebut dijadwalkan akhir 2014 dan programnya tuntas pada tahun 2017.
Sebagai upaya transfer technologi yang disyaratkan Pemerintah Indonesia, Thales juga akan meningkatkan kerjasama industri dengan PT LEN Indonesia, untuk mengembangkan bagian dari perangkat lunak Sistem Manajemen Tempur (CMS). Thales juga akan melibatkan industri Indonesia dalam urusan service support dan terus mengembangkan kemitraan jangka panjang dengan industri Indonesia, baik di bidang militer maupun sektor sipil.
Kontrak ini melibatkan pembuatan sistem radar SMART-S Mk2 hingga 50 unit. Kontrak pertama kali dilakukan tahun 2003 dan operasional pada tahun 2006. Sistem radar SMART-S Mk2 berfungsi sebagai pengawasan laut, jarak menengah dan jauh.
SMART-S Mk2
Disain dan konstruksi Radar SMART-S Mk2 3D didasarkan pada standar NATO untuk peralatan kapal. SMART-S Mk2, merupakan radar multibeam tiga dimensi terbaru buatan Thales, yang beroperasi di S-band, untuk pemantauan/ pengawasan jarak menengah dan jauh, serta menjejak target di wilayah pesisir/ littoral.

Radar SMART-S Mk2 (thales)
Radar SMART-S Mk2 (thales)
Radar SMART-S Mk2 versi terakhir mampu memantau: laut, darat, pulau-pulau, pesisir pantai dalam kondisi hujan dan badai petir, serta berbagai target radar lainnya, termasuk target permukaan dalam bentuk kecil: helikopter dan rudal anti-kapal. SMART-S Mk2 3D dirancang agar cocok dipasangkan dengan rudal permukaan ke udara (SAM), seperti Evolved Sea Sparrow Missile (ESSM).
Modul ini merupakan one radar concept (1 module) yang sekaligus melacak sasaran udara dan permukaan yang didisain sebagai radar utama bagi: light frigate, korvet dan kapal seperti Docks Landing Platform (LPD).
Radar ini memiliki dua 2 mode utama dengan jangkauan 250 km, juga dilengkapi mode khusus helikopter untuk memantau target yang berada di over the horizon target (OTHT) / terhalang lengkung bumi. SMART-S Mk2 dilengkapi saluran penembakan rudal sasaran darat, sehingga tinggal menghubungkannya dengan sistem rudal darat yang dipilih.
Sistem Manajemen Tempur (CMS) TACTICOS
Sistem manajemen tempur merupakan jantung dari kapal angkatan laut. Alat ini mengintegrasikan semua sensor kapal dan informasi dari pihak lain untuk mengetahui situasi dan kondisi secara real time.

Tacticos bisa dikatakan CMS yang telah matang dan terkenal kehandalan serta kemampuannya untuk mengintegrasikan berbagai hal yang sulit. Tidak kurang 160 kapal berbagai jenis, dari 19 Angkatan Laut (baik NATO dan non-NATO) menggunakan CMS TACTICOS. Salah satu yanng baru berhasil dilakukan TACTICOS adalah mengintegrasikan rudal VL Mica yang saat ini telah beroperasi di Frigate Angkatan Laut Maroko, Tarek Ben Ziad tahun 2012.
CMS TACTICOS Thales
CMS TACTICOS Thales
VL Mica merupakan sistem rudal fire and forget jarak pendekance tingkat advance buatan MBDA missile system. Rudal ini mampu menggasak sasaran dari arah 360 derajat, untuk segala jenis ancaman. Prosesnya, CMS tacticos mengirim data yang diambil dari radar SMART-S Mk2, diteruskan kepada Sensor yang ada di dalam rudal, untuk membimbing rudal menuju ancaman.
STIR 1.2 EO Mk2
STIR 1.2 EO Mk2
STIR 1.2 EO Mk2
STIR 1.2 EO Mk2 merupakan sistem kontrol senjata dual band (I dan K) jarak menengah untuk mengendalikan penembakan rudal maupun senjata mesin. Alat ini kombinasi dari satu radar pengarah 1.2 m dilengkapi satu set electro-optic equipment (TV/IR/Laser), termasuk optronic tracking dan sebuah sensor seleksi otomatis. Tiga sumber data (I, K, EO) disiapkan untuk mengurangi kesalahan transmisi, meningkatkan performa dan sekaligus ketahanan ECCM. Singkatnya STIR 1.2 EO Mk2 mampu membimbing rudal homing semi- aktif seperti ESSM dan ASPIDE. STIR 1.2 EO Mk2 dilengkapi alat PreAction Calibration (PAC) and Miss Distance Indication (MDI).
LINK-Y Data Link
LINK-Y Data Link merupakan alat pertukaran data yang menjadi kepentingan utama untuk mengkoordinasikan tindakan yang harus dilakukan kapal, helikopter/ platform udara serta unit darat. Alat ini melakukan pertukaran data taktis antara beberapa platform militer.

DataLink
Dengan kemampuannya itu, data link biasa disebut “kekuatan pengganda”. Data taktis yang tersedia dibagi ke unit lain untuk tujuan antara lain: Over-The-Horizon Targeting support, Integrasi Combat Management System & Air Management System; serta posisi, status dan data target.
Kinglip Sonar
Kinglip Hull-Mounted Sonar (HMS) ini merupakan sonar yang menggunakan frkuensi aktif dan pasif.Piranti pemantau ancaman dari berbagai jenis kapal selam serta ancaman bawah laut lainnya, seperti torpedo ataupun ranjau laut. Kinglip Hull-Mounted Sonar (HMS) mampu menjejak secara akurat posisi dan jarak kapal selam, dengan bantuan helicopter/ airborne platform.

Thales sonars qualified at sea for French and Italian FREMM frigates
Thales sonars qualified at sea for French and Italian FREMM frigates
sonar-2
Kerjasama dengan PT PAL
Pembangunan Kapal PKR Sigma akan melibatkan Galangan Kapal PT PAL Indonesia. Sejumlah modul kapal rencananya dibangun di PT PAL Surabaya.
Pembagian pembangunan modul PKG Sigma, antara Damen Schelde dan PT PAL (photo: arc.web.id)
Pembagian pembangunan modul PKG Sigma, antara Damen Schelde dan PT PAL (photo: arc.web.id)
Berdasarkan diagaram ini, Modul 5: bridge kapal, sensor dan elektronik; akan digarap oleh Damen Vlissingen facility di Belanda.  Bridge adalah ruang Komando untuk mengontrol berbagai platform kapal.  Sementara Modul 3 yang merupakan  mid hull/engineering module akan dikerjakan Damen Rumanian facility.
Contoh Bridge Kapal Sipil
Contoh Bridge Kapal Sipil
4 modul sisanya termasuk hull depan dan belakang kapal, akan dibangun oleh PT PAL di Surabaya. Pada PKR ke 2 ditargetkan PT PAL akan mengerjakan 5 modul. Modul mid hull yang dikerjakan oleh Damen Rumania akan ditake over oleh PT PAL.  Pembuatan satu PKR Sigma diperkirakan memakan waktu 3 tahun. Dua tahun untuk pembuatan v modul dan satu tahun untuk mengintegrasikan dan finishing Kapal.
Persenjataan PKR Sigma
Persenjataan yang akan diusung oleh PKG Sigma 101514 ini kira kira seperti ini:
Guns:
» 1x Oto Melara 76/62 Compact 76mm Main Gun
» 1x Rheinmetall Millenium 35mm CIWS
Missiles:
» 8x MBDA MM40 Blk III antiship missiles
» 12x MBDA MICA VL surface to air missiles (in VLS)
Torpedoes:
» 2x Triple torpedo launchers
Rheinmetall Millenium 35mm CIWS
Rheinmetall Millenium 35mm CIWS
SIGMA 10514 Guided Missile Frigate (photo arc.web.id)
SIGMA 10514 Guided Missile Frigate (photo arc.web.id)
Namun dalam Defense Security and Equipment International/ DSEI 2013 di London DAMEN Schelde Naval Shipbuilding (DSNS) memamerkan juga sebuah korvet Sigma yang mengusung RAM launchers buatan Rheinmetall Jerman.
Sigma Corvette with Integrated Mast Module, 8x anti-ship missiles, a 76mm main gun, a special mission container at the stern and two RAM launchers (photo: Navy Recognition)
Sigma Corvette with Integrated Mast Module, 8x anti-ship missiles, a 76mm main gun, a special mission container at the stern and two RAM launchers (photo: Navy Recognition)
RIM-116 Rolling Airframe Missile Launcher (Rheinmetall)
RIM-116 Rolling Airframe Missile Launcher (Rheinmetall)
Semoga saja persenjataan Kapal PKR Sigma 10514 mengusung senjata modern sehingga frigate ini disegani dan bisa diandalkan di masa depan (JKGR).

Su-35 Super Flanker Strong !

Sukhoi Su-35
Sukhoi Su-35
Saya sebagai warga negara yang mempunyai rasa nasionalisme yang tinggi berharap Pemerintah bisa menyetujui permintaan panglima TNI Moeldoko agar TNI AU segera bisa memiliki Sukhoi SU 35 sebagai pengganti dari F5 Tiger TNI AU yang akan digrounded. Berikut saya postkan keunggulan Sukhoi SU 35 ulasan Bung Antonov dari WARJAG, monggo.

Assalamu alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.
Salam sejahtera.
Beberapa minggu sampai sekarang JKGR tercinta menampilkan artikel-artikel terkait dengan Su-35, dan menimbulkan komentar pro dan kontra yang ramai secara sehat. Mengapa begitu? Tentu saja terkait antara lain dengan keputusan TNI AU dalam memilih Su-35 sebagai pilihan nomor 1 sebagai pengganti F-5, dan antisipasi ancaman kedaulatan udara kita jangka waktu 5 – 10 tahun ke depan.
Pertanyaannya, mengapa sebagai nomor 1 dipilih Su-35, dan bukan pespur lain seperti F-16 Fighting Falcon di atas blok 24 buatan Amerika Serikat, F-15 Strike Eagle buatan Amerika Serikat, atau SAAB Gripen buatan Swedia, maupun Eurofighter Typhoon buatan konsorsium Eropa, atau Rafale buatan Perancis. Meskipun tidak pernah dijelaskan secara gamblang, namun dapat diduga bahwa TNI AU tidak mau diembargo lagi, sudah berpengalaman dan nyaman lebih satu dekade mengoperasikan pesawat sejenis (Flanker), dan percaya/ yakin kepada kelebihan Su-35 di atas pespur-pespur lain tersebut. Soal harga itu adalah domain pemerintah, meskipun nyatanya harga Su-35 sangat bersaing.
Beberapa fitur-fitur kelebihan Su-35, yaitu antara lain :
o Pengembangan Su-35 dari Su-27M
o Airframe (Fuel fraction, combat persistence dll)
o Radar (avionik dan ECM)
o Kinematika (Thrust vectoring control 3D, wing loading, T/W ratio dll)
o Persenjataan
o Nilai strategis dan taktis,
Namun tidak semuanya dibahas karena akan memakan ruangan yang cukup besar. Supaya tidak ditegur oleh Bung Diego/ Bung NYD, maka rencananya Insha Allah akan ditulis dalam beberapa seri.

Beberapa singkatan kata

W/L : wing loading
T/W : thrust weight (ratio)
TVC : thrust vector control
3D : 3 dimensi
VLO : very low observables (siluman/ stealth)
MFD : multi function display
HUD : heads up display
HOTAS : hands on throtle and stick
SINS : strapdown inertial navigation system
SAR : synthetic aperture radar
JTIDS : joint tactical information distribution system
MIDS : multifunctional information distribution system
Pengembangan Su-35
Su-35 dikembangkan dari Su-27M, sebagai sebuah konsep upgrade komprehensif dari keluarga pesawat tempur Su-27/ Flanker, dan telah dimulai pada pertengahan dekade pertama abad baru. Jadi, apa yang baru dalam desain Su-35 itu ?.

Airframe : peningkatan airframe menampilkan lebih banyak paduan titanium, yang menghasilkan perpanjangan service life pesawat yang cukup besar hingga 6.000 jam atau 30 tahun beroperasi, dengan waktu sebelum rekondisi pertama dan antara overhaul tumbuh sampai 1.500 jam atau 10 tahun beroperasi.
Konfigurasi aerodinamis Su-35 adalah sama seperti yang Su-27, lihat Gambar 1 dan 2, ada perbedaan sedikit lebih besar di tinggi badan dan bentang sayap, dan juga karena dilengkapi dengan TVC 3D, kemungkinan posisi mesin lebih renggang serta di belakang sedikit menjorok ke luar untuk memaksimalkan efek TVC. Namun volume internal badan pesawat didesain ulang memungkinkan peningkatan kapasitas bahan bakar Su-35 lebih dari 20 persen menjadi 11.500 kg dibandingkan 9.400 kg kapasitas Su-27 . Selain itu, pesawat dapat membawa dua drop tank 1.800 liter masing-masing di bawah sayap. Dengan drop tank, total ukuran kapasitas bahan bakar menjadi 14.300 kg. Pesawat ini juga dilengkapi dengan sistem pengisian bahan bakar AAR.
Gambar 1 – 3 view line drawings Su-27
Gambar 1 – 3 view line drawings Su-27
Gambar 2 – 3 view drawings Su-35
Gambar 2 – 3 view drawings Su-35
Keluarga pesawat tempur Flanker dari semula tidak didesain sebagai pesawat VLO, namun berita beredar menyebutkan bahwa Su-35 akan dilengkapi dengan radar absorbent material untuk mewujudkan pemotongan/ reduksi X–band RCS dalam sektor ± 60°.
On board systems: berbeda dengan Su-30MKI, tidak akan memiliki canards tetapi akan menampilkan sebuah quadruplex, digital fly-by-wire control system KSU-35 dikembangkan oleh Avionika Moscow Research and Production Complex JSC (MNPK Avionika). Ciri khas dari Su-35 adalah on board systems baru yang utamanya adalah sistem informasi manajemen (IMS), yang mengintegrasikan informasi, fungsional, logis, dan subsistem perangkat lunak ke dalam sebuah kompleks tunggal yang menjamin interaksi antara pilot dan peralatan.
IMS termasuk dua pusat komputer digital, perangkat pembantu dan informasi serta sistem indikasi yang dibangun di atas konsep “all glass cockpit”, dengan dengan dua 230mm x 305mm LKM-35 liquid crystal display resolusi tinggi dengan panel kontrol multifungsi dan HUD display IKSh-1M dengan lebar bidang pandang (FOV) 20° x 30°.
Pilot memiliki dua VHF / UHF sistem komunikasi radio terenkripsi dan sistem data link militer yang jam resistant antara pesawat dalam satu skuadron dan antara pesawat dan ground control. Sistem navigasi didasarkan pada tampilan peta digital dengan sistem navigasi inersial strapdown (SINS) dan GPS. Pada saat yang sama, KSU-35 akan menangani fungsi keselamatan proaktif. On board systems dan persenjataan serta kontrol mesin di kokpit baru Su-35 dikendalikan oleh tombol multi-fungsi dan switch pada joystick kontrol pesawat. Sehingga konsep HOTAS direalisasikan dan kinerja penerbangan dan manuver tempur akan menjadi lebih maju karenanya.
Gambar 3 – Simulator Su-35 all glass cockpit dan joystick
Gambar 3 – Simulator Su-35 all glass cockpit dan joystick
Sistem ini menggantikan penanganan pekerjaan yang dulu dilakukan oleh beberapa sistem individu di Su-27, fly- by-wire system, sistem kontrol otomatis, peringatan stall dan data udara, pengereman roda landing gear dan sistem kontrol nosewheel .
Kokpit dilengkapi juga dengan sebuah kursi lontar Zvesda K-36D-3.5E zero-zero ejection seat yang memungkinkan pilot untuk eject pada zero speed dan pada zero altitude.
Engines : fitur kunci lain membedakan Su-35 dari pendahulunya keluarga Su -27 adalah mesin pendorong yang sangat ditingkatkan dikembangkan oleh NPO Saturnus dan dijuluki ‘Produk 117S’.
Sejauh desain mesin yang bersangkutan, ini adalah turunan dari produksi sebelumnya AL-31F, menggunakan teknologi generasi kelima, kipas dengan diameter 3 % lebih besar ( 932 mm dari 905 mm ), kemajuan metalurgi dan sistem kontrol all-new digital.
Ketentuan telah dibuat untuk menggunakan nozzle TVC 3D mirip dengan AL- 31FP . Upgrade telah menghasilkan tambahan gaya dorong sebesar 16% menjadi 14.500 kgf dalam moda afterburner/ wet dan sebesar 8.800 kgf dalam maksimal moda non– afterburning/ dry . Dibandingkan dengan AL – 31F , service life mesin baru melonjak dengan faktor 2-2,7 kali, dengan waktu antara overhaul meningkat dari 500 jam ke 1.000 jam, waktu sebelum perbaikan pertama di 1.500 jam dan umur mesin melonjak dari 1.500 jam ke 4.000 jam.
Gambar 4 – Mesin 117S (AL-41F1) mesin generasi 5 dengan TVC 3D
Gambar 4 – Mesin 117S (AL-41F1) mesin generasi 5 dengan TVC 3D
X-band Radar: Su-35 telah dilengkapi dengan X-band radar PESA ‘Irbis’ E, yang merupakan komponen penting dari sistem fire control pesawat, merupakan pengembangan dari NIIP PESA ‘Bars’ radar, yang mempunyai sudut pindai lebih besar dan dipasang ke sebuah two-axis (azimuth and bank) hydraulic drive. Radar ini mampu mendeteksi sasaran udara RCS 3 meter persegi head-on pada jarak 400 km (250 mil), sementara overtaking pada jarak tidak kurang dari 150 km (dengan tinggi sasaran 10 km atau lebih).
Sasaran “siluman” RCS 0.01 meter persegi dapat dideteksi pada jarak 90 km. Dan dapat melacak (track & scan) 30 sasaran udara dan mengunci serta menembak delapan di antaranya pada waktu yang sama, memastikan penembakan simultan dari dua sasaran dengan dua rudal pemindai semi- aktif dan hingga delapan sasaran dengan delapan rudal pemindai aktif, dalam kasus seperti empat sasaran pada jarak lebih dari 300 km. Radar juga dapat memetakan sasaran di tanah dengan menggunakan berbagai moda, termasuk moda SAR.
 Gambar 5 – Radar Irbis E (kanan) dengan dudukan two-axis (azimuth and bank) hydraulic drive (kiri)

Gambar 5a – Radar Irbis E
 Gambar 5 – Radar Irbis E (kanan) dengan dudukan two-axis (azimuth and bank) hydraulic drive (kiri)

Gambar 5b – Radar Irbis E  dengan dudukan two-axis (azimuth and bank) hydraulic drive
L-band Radar : Su-35 juga dilengkapi dengan 2 radar L-band yang dipasang di leading edge sayapnya. Radar L-band ini menjadi sangat penting karena pesawat siluman rentan terhadap radar yang beroperasi pada gelombang pendek seperti L-band dan juga VHF-band.
Website APA mem-posting artikel yang bagus “Assessing the Tikhomirov NIIP L-Band Active Electronically Steered Array” tentang ini. Selain sebagai counter VLO, radar L-band juga dapat dikembangkan untuk digunakan pada :
o Pelacakan pasif jarak jauh sudut dan geolokasi dari emitter JTIDS/MIDS/Link-16.
o Pelacakan pasif jarak jauh sudut dan geolokasi dari L-band AEW&C / AWACS dan radar di darat.
o Pelacakan pasif jarak jauh sudut dan geolokasi IFF musuh (yaitu Barat) dan transponder SSR.
o Active jamming daya tinggi dari emitter JTIDS/MIDS/Link-16.
o Active jamming daya tinggi dari penerima navigasi satelit di daerah yang luas.
o Active jamming daya tinggi jarak jauh L-band AEW & C / AWACS dan radar di darat .
o Active jamming daya tinggi guided munition command datalinks di daerah yang luas.
Gambar 6 – Radar L-band dipasang pada wing leading edge
Gambar 6 – Radar L-band dipasang pada wing leading edge
 Gambar 7 – Susunan AESA menghasilkan bentuk kipas yang menyapu di azimuth untuk menutupi volume di sebelah depan pesawat

Gambar 7 – Susunan AESA menghasilkan bentuk kipas yang menyapu di azimuth untuk menutupi volume di sebelah depan pesawat
 Gambar 8 – Bidang geometris AESA, dengan asumsi sudut mainlobe beam steering angle ± 50° off boresight array (credit APA).

Gambar 8 – Bidang geometris AESA, dengan asumsi sudut mainlobe beam steering angle ± 50° off boresight array (credit APA).
Gambar 9 – Solusi paling murah untuk mendapatkan kemampuan heightfinding adalah menyuruh pilot untuk mengarahkan hidung pesawat ke sasaran kemudian melakukan sebuah aileron roll manoevre pada saat yang sama, dengan demikian memperoleh hasil ketinggian dengan azimut (credit APA)
Gambar 9 – Solusi paling murah untuk mendapatkan kemampuan heightfinding adalah menyuruh pilot untuk mengarahkan hidung pesawat ke sasaran kemudian melakukan sebuah aileron roll manoevre pada saat yang sama, dengan demikian memperoleh hasil ketinggian dengan azimut (credit APA)
Gambar 10 – Solusi cerdas lebih mahal tetapi lebih pasti untuk mendapatkan kemampuan heightfinding adalah dengan menambah antena heightfinding pada sirip tegak ekor pesawat (credit APA)
Gambar 10 – Solusi cerdas lebih mahal tetapi lebih pasti untuk mendapatkan kemampuan heightfinding adalah dengan menambah antena heightfinding pada sirip tegak ekor pesawat (credit APA)
Gambar 11 – Tikhomirov NIIP L-band AESA memiliki potensi pertumbuhan yang besar berdasarkan ukuran airframe pesawat Flanker yang besar, memungkinkan tambahan elemen antena, pendinginan dan daya (credit APA)
Gambar 11 – Tikhomirov NIIP L-band AESA memiliki potensi pertumbuhan yang besar berdasarkan ukuran airframe pesawat Flanker yang besar, memungkinkan tambahan elemen antena, pendinginan dan daya (credit APA)
 Gambar 12 – Diagram sederhana menjelaskan efek gelombang radar pada pesawat siluman : hijau aman, kuning waspada, dan merah kritis

Gambar 12 – Diagram sederhana menjelaskan efek gelombang radar pada pesawat siluman : hijau aman, kuning waspada, dan merah kritis
IRST : Seperti pada pendahulunya, Su-35 juga dilengkapi OLS-35, yang adalah sistem pencarian dan pelacakan inframerah (Infra Red Search & Track), sistem pengendalian penembakan canggih yang dirancang untuk generasi pesawat tempur 4++ menggantikan OEPS-27 dan 30 yang dipasang pada keluarga pesawat Su-27/Su-30. OLS-35 terdiri dari pencari panas, laser rangefinder / designator dan kamera TV bersama dengan algoritma baru dan perangkat lunak canggih untuk mengungguli pendahulunya dalam hal jangkauan, presisi dan keandalan. OLS-35 menyediakan cakupan + / -90° di azimuth dan +60° / -15° di ketinggian dengan berbagai akuisisi sasaran untuk non-afterburning head on target dari 50 km dan 90 km untuk overtaking target. Penjejak jarak laser memiliki lima meter CEP dan berkisar hingga 20 km untuk target udara dan 30 km untuk target di tanah.
Kabarnya, OLS-35 juga dapat digunakan sebagai fire control system kanon 30mm yang diusung Su-35, lebih akurat dari radar.
Kesimpulan dan Penutup
Su-35 adalah sebenar-benarnya generasi pesawat tempur 4++ sebelum generasi 5 (siluman) yang tercanggih di dunia saat ini. Pihak Barat belum punya pesawat sekelas yang bisa menandinginya, apalagi melebihinya. Bila diadu sekalipun dengan pesawat siluman F-22 Raptor, belum tentu kalah, apalagi dengan F-35 Lightning II yang lamban dan gendut dijuluki “Pigeon”.
Karena merupakan pengembangan dari seri keluarga Flanker sebelumnya, maka beberapa fitur canggih Su-35 secara teknis mudah dicangkok/ retrofit ke “adik2nya”, antara lain mesin, radar X-band dan L-band, serta IRST OLS-35.

Sebagai pengguna Su-27/30, TNI AU (sebagaimana juga AU China) pasti merasa kekurangan pada sistem radar yang diusung yaitu N001E Myech/ N001M. Karena itu, dengan membeli Su-35, kita akan mendapat juga kesempatan emas untuk upgrade Flanker kita, sebaiknya dengan cara dikerjakan disini, mungkin melalui semacam Maintenance Depot. Isu selentingan cangkok/ retrofit ini mungkin sudah dilakukan secara rahasia, karena alasan disebutkan di atas. Akan tetapi isu baby Flanker dapat dipastikan tidak benar alias hoax, karena dengan badan yang lebih kecil, Flanker akan kehilangan combat persistence – nya, yang justru merupakan keunggulanya.
Sebagai penutup, mohon maaf bila ada kesalahan disengaja maupun tidak, dan diucapkan terima kasih kepada para pembaca.
Wasalammu alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh (by Antonov)

E-mail Newsletter

Sign up now to receive breaking news and to hear what's new with us.

Recent Articles

© 2014 Kidung Ilmu. WP themonic converted by Bloggertheme9. Powered by Blogger.
TOP